Home / Pendidikan dan Sastra

Jumat, 22 Juli 2022 - 19:47 WIB

Bambu Penghubung Bumi dengan Langit (3)

Kepsek SLTPN 5 Borong, Karel Kristen Arsima, S.Pd. usai mendampingi dua siswa sekolah itu saat menerima hadiah dari Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, SH.MHum atas prestasi mengelola majalah sekolah. Foto/dokumentasi Dapur Ilmiah SMPN 5 Borong

Kepsek SLTPN 5 Borong, Karel Kristen Arsima, S.Pd. usai mendampingi dua siswa sekolah itu saat menerima hadiah dari Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, SH.MHum atas prestasi mengelola majalah sekolah. Foto/dokumentasi Dapur Ilmiah SMPN 5 Borong

Catatan Redaksi. SMPN 5 Borong, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur termasuk salah satu  Sekolah Penggerak di wilayah setempat. Salah satu implementasi Kurikulum Merdeka Belajar adalah Dapur Ilmiah. Media ini sangat strategis bagi siswa-siswinya. Peserta dilatih agar bisa menulis dengan baik. Menulis apa saja sesuai  kemampuan dasarnya. Sudah dua edisi majalah sakolah bertajuk AsPiRa-Aspirasi, Pikiran, dan Rasa dihasilkan. Bahkan pada edisi kedua lebih menukik lagi. Mereka belajar tentang hidup dan keheidupan dari pohon bambu. Dnore.id terpikat dengan kegiatan itu dan melaporkan bersambung mulai edisi ini.

Menurut beberapa orang tua, penghuni bumi  itu ada dua.Penghumi bumi atas atau mereka yang tinggal di langit dan penghuni bawah adalah mereka yang tinggal di bumi. Antar penghuni bumi atas atau langit dan bumi bawah bisa berkomunikasi. Ada jalan pergi pulang ke langit dan ke bumi menggunakan batang bambu. Maka cabang atau ranting bambu selalu selang seling untuk memudahkan manusia naik ke langit atau turun ke bumi-tanah.

Konon menurut ceritera orang tua, sekali peristiwa, seorang ibu penghuni bumi atas di langit mengandung. Maka pergilah suaminya ke bumi  bawah. Berjalan ke bumi menggunakan atau lewat tangga bambu.

Sesampai di bumi dia bertanya kepada bibinya, “bagaimana cara melahirkan anak” Bibinya menjelaskan, jika seorang ibu melahirkan biasanya  menggunakan sihir atau lahir dengan cara leah– dewasa ini dikenal caesar.

Setelah mendengar penjelasan dari bibinya itu, bapak tersebut pergi  ke awan. Sebab bibinya itu mempunyai cucu perempuan di awan. Tibalah saatnya, istri sang bapak itu melahirkan. Maka bapak itu membawa istrinya ke bibinya di bumi agar bisa membantu istrinya itu bisa  melahirkan anaknya.

Setibanya di bumi berkatalah suami dari ibu yang mengandung itu  kepada bibinya, “bibi ayo kita ke awan karena sebentar lagi ibu saya akan melahirkan”.

Tetapi bibinya itu keberatan, “bagaimana dengan cucu saya!”.Kata suami itu biar saja dia juga ikut ke awan.

Latihan menarasikan obyek. Foto/dok. Dapur Ilmiah SMPN 5 Borong

Setibanya di awan, istrinya menangis, maka  datanglah bibi dan diapun membantu ibu itu untuk melahirkan. Detik demi detik, akhirnya ibu itu melahirkan anaknya, anak laki laki.

Beberapa hari kemudian anak itu diberi nama Lancang. Setelah itu bibi pamit pulang ke bumi. Tapi  ibu yang baru melahirkan itu menahan bibi yang telah membantunya itu. “Jika bibi harus pulang, maka cucunya ditinggalkan bersama keluarga yang baru melahirkan anak”. Tetapi bibi keberatan, khawatir cucunya itu menangis!

Karena bibi tetap harus pulang ke bumi, maka ibu yang baru melahirkan itu memberi makanan berupa daging. Makanan untuk bekal bibi dan cucunya dalam perjalanan pulang ke bumi.

Karena bekal itu ada daging, maka dalam perjalan pulang itu anjing ikut mereka.Di tengah perjalanan, anjing yang ikut mereka makan bekal daging yang mereka bawa itu. Cucu dari ibu yang membantu melahirkan sempat usir anjing itu. Namun sialnya, karena anak itu usir anjing yang makan daging, maka anjing itu marah. Karena jengkel anjing itu gigit tali waso yang ikat persambungan bambu.

Dan akhirnya terjadilah pemisah antara langit atas dan bumi. Bibi dan anjing ke bumi, sedangkan cucu dari ibu itu kembali ke langit.Mereka terpisah dan awan pun menutup tangga bambu yang sudah putus itu. Maka mereka tidak bisa berkomunikasi lagi.

Itulah cerita tentang fungsi bambu sebagai jembatan menuju langit. Bambu pohon yang tinggi menjadi tangga yang digunakan untuk menghubungkan langit dengan bumi.Kemudian mengapa pada ujung atas bambu melengkung.

Menurut ceritera karena pohon bambu sangat tinggi maka ujung pohon itu tidak bisa tembus ke atas. Ujung atas pohon bambu itu terpaksa harus tunduk melengkung karena tertahan langit. Kemudian menurut cerita juga ada arti lain mengapa ujung bambu melengkung. Menurut ceritera ujung atas melengkung bertujuan melindungi anak pohon bambu. (Filomena Karunia Murni Nas- anggota kelompok II)

Share :

Baca Juga

Bahasa dan Sastra

Kualitas Pendidikan Anak di Daerah Pedalaman

Pendidikan dan Sastra

Membaca itu Sehat, Menulis itu Hebat! (1)

Pendidikan dan Sastra

Selamatkan Pendidikan Katolik di Manggarai Timur

Pendidikan dan Sastra

Belajar Kehidupan dari Bambu (Bagian 1)

Pendidikan dan Sastra

Puisi, “Makhluk Liar Berbisa!”  (2)

Bahasa dan Sastra

FATAMORGANA

Pendidikan dan Sastra

Lebah dan Lalat (3)

Pendidikan dan Sastra

SENJA TANPA NAMA