Home / Pokok pikiran

Senin, 14 Februari 2022 - 06:03 WIB

Bolotisme Itu Nyata

Fr. Marselus Natar/Ist

Fr. Marselus Natar/Ist

Oleh: Marselus Natar*

Dunia perkomedian Indonesia pasti sudah tidak asing mendengar nama Haji Bolot. Sebagaimana dilansir dari laman http://palembang.tribunnews.com. Haji Bolot yang mempunyai nama asli Muhammad Sulaeman Harsono, lahir di Bogor, 5 Maret 1942. Bolot adalah seorang komedian yang mempunyai ciri khas berpura-pura tidak mendengar atau tuli dan selalu salah paham dalam berdialog dengan lawan bicaranya. Pemberian nama Bolot sendiri ternyata berasal dari nama yang diberikan neneknya sewaktu masih kecil.

Konon, sang nenek selalu memperingatkan Sulaeman agar tidak bermain di tengah hujan. Saat itulah, banyak keluarga dan rekan yang memanggilnya dengan sebutan Bolot dan saat masuk lawak pun, ia menggunakan nama Bolot sebagai nama panggungnya. Menarik bahwa di atas panggung, komedian dan pemain Lenong Betawi ini dalam setiap penampilannya mempertontonkan karaktersistik unik dan khas yaitu  gayanya yang bodoh dan tuli atau budeg.

Dirinya hanya akan ‘sembuh’ dari sakitnya ini jika masalah yang dibicarakan adalah uang atau wanita. Bolot hanya berperan sebagai tokoh si tuli, tetapi sebenarnya tidak tuli. Adegan yang diperankan Bolot bukanlah fakta sungguhan melainkan sebuah realitas lawakan. Bagaimana seorang Bolot merespon setiap pernyataan dan pertanyaan dari lawan dialognya?. Kita semua sepakat bahwasannya tidak dapat disangkal, Bolot hampir senantiasa melenceng dari konteks dialog ataupun komunikasi yang sedang terjadi.

Bolot akan menyambung pembicaraan secara baik dan benar manakala lawan bicaranya adalah wanita dan orang yang memiliki uang. Bolot barangkali sedang menyindir, karena di negeri ini banyak orang yang mempunyai telinga tetapi tidak sanggup mendengarkan, banyak orang yang memiliki pikiran dan perasaan namun kehilangan empati dan simpati. Bolot mengenalkan fenomena tuli-tulian, pura-pura tuli. Itulah substansi lawakan Bolot. Komunikasi model Bolot itu mungkin tidak ada salahnya kalau disebut sebagai fenomena “Bolotisme”.

Martin Buber, seorang ahli komunikasi berpendapat bahwa seorang tunarungu atau orang  yang tidak dapat mendengar hanya berbicara sendiri (monolog), berdasarkan apa yang dipikirkannya. Sejatinya, ia memang tidak mendengar suara sahabatnya tetapi ia tidak mengakui. Si Tuli mencoba membangun kesan demokratis, egaliter, dialogis, familiar, dan apresiatif. Tetapi karena ia hanya mendengarkan dan meyakini jalan pikirannya sendiri, sesungguhnya ia telah melakukan manipulasi.

Di negeri ini, telah banyak kasus terkait manupulasi. Kita sering menonton ataupun membaca berita tentang kasus manipulasi seperti manipulasi data, manipulasi harga, manipulasi suara, yang dilakukan orang atau sekolompok orang untuk kepentingan diri atau kelompok. Jika Bolotisme ini muncul dalam setting komunitas yang lebih luas, seperti hubungan antar-elite, negara-warga, pemimpin-rakyat, dan lain-lain, tentu bisa dibayangkan.

Bagaimana rasa keadilan rakyat yang sudah tertindas, diperlakukan secara semena-mena, bagaimana situasi hati dan pikiran para pencari dan pejuang keadilan yang aspirasi, keringat, segala upaya dan pengabdian mereka diabaikan, sedangkan ketimpangan terhadap rasa kemanusiaan dan keadilan terdapat dan terjadi di mana-mana, seperti para pejabat negara atau siapa pun yang melakukan korupsi, melakukan pelanggaran hak asasi manusia, penistaan agama, ujaran kebencian dan rasisme dibiarkan berkeliaran tanpa dijatuhi hukuman yang setimpal atau mendapatkan hukuman yang sungguh irasional.

Kita merasa tidak puas dengan hukuman yang berlaku. Kita berharap agar eksistensi hukum atau undang-undang yang berlaku dan diakui oleh negara benar-benar diterapkan tanpa pandang bulu sehingga tidak seorang pun yang kebal terhadap hukum. Dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara, kita kerap kali menyaksikan berbagai persoalan yang penyelesaiannya terkesan tanpa ada kepastian atau kejelasan. Kerap kali, yang muncul hanyalah pernyataan sejumlah elite yang berusaha melakukan pembenaran atas apa yang terjadi.

Sesungguhnya, apa yang ditampilkan Bolot di atas panggung komedi adalah pantulan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang mana senantiasa diwarnai oleh berbagai problem korupsi, manipulasi, penyelesaian masalah pelanggaran hak asasi manusia, penistaan agama, ujaran kebencian dan rasisme yang terkesan tidak melalui mekanisme hukum yang berlaku. Sebagaimana Bolot, uang adalah penyembuh. Dengan uang, Bolot yang sedianya tuli, kini menjelma sebagai pribadi yang tidak mengalami gangguan pendengaran. Bolot sanggup membangun komunikasi yang intens, benar dan tepat dengan lawan bicaranya.

Fenomena Bolotisme inilah yang juga terjadi di era kapitalisme seperti sekarang. Era yang dengan angkuh mengagungkan golongan yang punya modal (uang). Siapa yang punya uang dia yang berkuasa. Siapa saja yang punya uang, dia pasti menang. Siapa saja yang punya uang, dia dapat bersafari. Siapa saja yang punya uang, dia bisa keluar-masuk penjara. Tidaklah berlebihan jika mengatakan bahwa hukum dan pasal-pasal sekalipun dapat diuangkan. Itulah Bolotisme!. Bolotisme tidak sekadar sandiwara di atas panggung yang membuat penonton senang, terhibur, tercengang, merenung dan tercenung, tetapi lebih dari itu Bolotisme realitas kehidupan sosial manusia, realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Bolotisme itu nyata!.

Penulis biarawan BHK. Tinggal di Ende-Flores,NTT

Share :

Baca Juga

Pokok pikiran

Matim tidak Butuh Wakil Bupati

Pokok pikiran

Rat Peti, Wisata Alam Yang Dijuluki Negeri Diatas Awan.

Pokok pikiran

Cekalikang

Pokok pikiran

Dari Bupati Ande Agas untuk Firman Jaya

Pokok pikiran

Yudas Iskariot, Uang, dan Ketamakan

Pokok pikiran

Tarian Vera, Tradisi Merawat Makna (2)

Pokok pikiran

Mempersoalkan Belis dalam Budaya Manggarai (Bagian-2)

Pokok pikiran

JOKOWI: Layaknya Nabi Bagi Rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT)