Home / Serba serbi

Sabtu, 12 Februari 2022 - 15:35 WIB

Dan Aku  Cemburu Mengenang Bapak Donatus Datur

Oleh :Kanis Lina Bana

Amang Donatus Datur. Kepergianmu membuat saya cemburu. Cemburu sekali. Betapa tidak. Jengkal usiamu belum seberapa. Masih sehat, segar. Masih produktif. Pengabdianmu masih dibutuhkan daerah Manggarai Timur ini.

Amang kematianmu membuat saya terpekur dalam pergulatan batin. Antara menerima kenyataan atau harus menolaknya, jadi  belitan siksa yang terus mengikis. Dan akhirnya butir bening meletus deras. Tak kuasa menahannya. Selamat jalan Mekas Donatus Datur.

Harimu adalah racikan harap yang meluapkan gerai mimpi. Kadang pedas, tapi menukik. Sapaan khasmu jadi  jahitan perjumpaan yang sulit lekang.  Semuanya indah. Karena olah pikir dan caramu bertindak mengekpresikan kebajikan.

Hari-harimu adalah persemaian kasih yang tak terbatas. Meski kepungan  badai yang mencoba mencungkil kebijakanmu terus melingkar. Seperti tak putus dan terus mengulang dalam ragam versi. Tetapi dalam nada santun engkau mengatakan dengan sesungguhnya. Bahwa cuitan yang dihembuskan bermain dalam rana dugaan. Dan engkau menanggkisnya beralas data sebagaimana amalnya.

Mekas Don. Mendengar kabar kematianmu adalah sayatan hati memilukan. Bilik  hati terasa remuk. Buku-buku kaki terasa mau terlepas. Tetapi di atas semuanya sepucuk doa  melambung,”semoga Bapak Donatus Datur,  mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan!”

Kematianmu Mekas Don, membuat saya  cemburu. Betapa tidak.  Mesih segar di layar ingatan tentang  percakapan terkahir kita. Masih seputar kelanjutan pembangunan gereja. Sebagaimana lazimnya ketika kerja gotong royong anggota kelompok basis engkau selalu hadir. Bahkan ketika kondisi material menipis, Mekas Don berani mengambil sikap hingga rogo uang pribadimu.

Masih lekat di otak kepala saya, seminggu sebelum Mekas Don pamit pergi. Ketika hari masih pagi. Embun masih basah. Pori-pori tanah belum rapat. Seperti sedianya. Sapaanmu  apa adanya. Lurus. Khas tak ada kata plastis. Diplomasi beraroma bombastis. Dan itu taka da dalam kamus hidupnmu sepanjang saya kenal.

Percakapan itu selalu menampar ingatan akan sosokmu Mekas Don. Saya membalas pesan WhatsApp Grup Stasi Peot. Isinya informasi. “Hari ini pemasangan granit altar!”.

Bapak Don menyapa penuh kebapakan. Meski enggan merapat, tetapi akhirnya saya membalasnya agar yang tertulis mengatakan pesan untuk diingatkan. “Harap bayar upah sistem per dos!”

Balasanmu juga berikut-ikutan. “Ya mekas, demikian kebijakannya. Kalau agak longgar mari kita mengaso di pelataran gereja Stasi Peot!”. Saya tak membalasnya lagi. Seperti ada rasa bersalah.

Hampir sepekan tak ada kabar. Juga berniat untuk kontak terasa enggan. Tetapi saya selalu yakin, kami pasti akan saling bersua. Entah urusan gereja atau urusan tugas. Dan jika terkait tugas, selalu mengalir begitu saja kegelisahan- kegelisahan yang menuntut tanggapan.

Mekas Don. Saya mengenalmu sudah cukup lama. Saat sama-sama masih bertugas di Ruteng, Manggarai. setiap perjumpaan selalu mengalir pesan. Motivasi. 

Di awal-awal proses pemekaran dan pembentukan Kabupaten Manggarai Timur. Jumpa kita selalu bertaut. Engkau selalu mengingatkan bahwa Manggarai Timur rumah kita bersama. Anak rahim Manggarai Timur dipanggil pulang untuk beramal di tanah pusakanya.

Mekas Don engkau tidak hanya mengatakan itu. Tetapi menyatakan dalam tugas dan pengabdian hingga penghujung napasmu.

Jujur, saya tidak percaya Mekas Don pulang ke rumah abadi begitu cepat. Karena tanah pusakamu masih membutuhkan suntikan pelayanan untuk sesama saudaramu di Tanah Lawe Lujang ini. Namun Dia yang memberi lebih tahu.

Dan di ujung nukilan kisah pendek ini, doaku bernazar dalam helaan napas yang sesak. “Engkau diciptakan dari tanah dan kepada pelukan tanah engkau berbaring pulas nan teduh!”.

Kami mendoakanmu. Kuatkan istri, anak-anak dan cucu-cucumu. Kami selalu percaya  di rumah abadi  akan ada jumpa meski raga tak tersentuh. Selamat jalan Mekas Don.

Penulis: jurnalis tinggal di Borong- Manggarai Timur.

Share :

Baca Juga

Serba serbi

Gol A Gong,Menabur Asa di Tanah Rongga Paundoa (4)

Serba serbi

OMK Menge Galang Dana Untuk Pemberkatan Kapela

Serba serbi

Puan Tolak Ukur Program Legislasi DPR di Kualitasnya

Serba serbi

Siswa SMPN 14 Borong Akui Kepsek Jarang Masuk Sekolah

Serba serbi

Demokrasi Sperma

Serba serbi

Begini Kata Puan Terkait Kerja Legislasi DPR

Serba serbi

Hari Kartini, Puan : Kita Harus Mampu Menghayati

Serba serbi

KBG St. Thomas Aquinas Peot Donasikan Sembako di SLBN Borong