Home / Pokok pikiran

Rabu, 1 Juni 2022 - 21:02 WIB

Dari Kampung untuk Nusantara

Foto Bersama-Jajaran Pengurus Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Manggarai Timur foto bersama Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, SH.MHum. Foto/dokumentasi FTBM Matim

Foto Bersama-Jajaran Pengurus Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Manggarai Timur foto bersama Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, SH.MHum. Foto/dokumentasi FTBM Matim

Oleh : Kanis Lina Bana

Pukul 19.35 Wita. Suatu malam. Awal pekan Bulan Mei 2022. Baru selesai makan malam. Duduk santai,  sambil baca buku. Buku lama. Buah pikiran, FX. Rudy Gunawan berjudul Skandal Seks Sebagai Simbol. Terbitan  Grasindo, Jakarta, Tahun  2000.

Karya intelektual jebolan filsafat UGM ini sering saya gumuli. Bukan karena judulnya yang bertautan dengan “selangkangan”, tetapi  simbolisasi dan metafora seks ditelisik dalam refleksi mendalam. Caranya menyajikan pesan dinarasikan lewat pilihan diksi bermutu.

Tulisannya bernas. Daging semua. Saya hendak memetik hikmah dan keterampilan linguistikalnya. Juga mau belajar bagaimana seorang penulis mewujudkan kecendekiaan estetika mengekspresikan  “kecakapan” literasi- intelektualnya dalam komposisi kalimat dan paragraf elok, runut, logis, dan menggelitik. Kalimat aktif memikat dengan adonan atributif, adverbial, aposisi, dan konstruksi setara.

Saya penggemar tulisannya. Saya terus belajar dari penulis-penulis hebat, meski style menulis sudah saya punyai. Tetapi sebagaimana menu makanan perlu tambahan “bumbu” biar lidah tak asing mengecap. Sama halnya dengan menulis, butuh asupan gizi  berupa bacaan bermutu agar jalinan kata tidak keriting.

Beberapa menit kemudian, HP saya berdering. Tanda pesan masuk. Saya baca isi pesannya. Jelas di sana, Kepala Sekolah SMAN 3 Borong, Bapak Sonny-demikian sapaan akrabnya, menawarkan saya bergabung dalam wadah organisasi bertajuk, Perhimpunan Penulis dan Motivator Nasional (PPMN).

Terhadap tawaran itu segumpal tanya menusuk-nusuk isi otak. Saya biarkan. Pikiran terbang jauh. Dan akhirnya saya terima tawaran itu. Ini kepercayaan. Meski isi pesan itu tidak disertai penjelasan-penjelasan tambahan.

Setelah saya nyatakan siap, informasi tambahan mengalir terus. Akhirnya saya paham tentang kiprah juang PPMN umumnya dan spirit pelayanan PPMN Manggarai Timur pada khususnya.

Tak lama berselang. Lantaran formasi kepengurusan PPMN  belum terisi semua, kepada saya diminta merekomendasikan beberapa figur lain. Saya usulkan ; Kristian Emanuel Anggur. Mengapa? Karena sosok  ini bukan wajah baru di dunia kepenulisan. Wajah lama yang sudah saya kenal sampai isi dalamnya. Hubungan kami berdua pun sudah seperti kuku dan daging.  Dekat dan saling baku tahu. Buku dan menulis itu dunia kami. Materi utama ketika kami berdua ada bersama.

Orangnya sederhana. Low profile. Dikenal sebagai pelatih THS-THM. Organisasi intra gereja. “SatPol-nya” gereja. “Pasukan perangnya”. Kutu buku. Punya perpustakaan pribadi dengan ribuan judul. Hobi membaca, menulis. Sudah menulis beberapa buku. Bisa melukis. Lukisannya dasyat. Sentuhan warna dan grafis pesannya sangat kuat.

Pengurus inti PPMN Manggarai Timur tidak keberatan. Jadilah komposisi kepengurusan sangat lengkap. Komplit dengan latar belakang sama. Tukang baca buku dan pandai menulis.

  • Penulis Berbakat

Tentang dunia kepenulisan, Manggarai Timur termasuk rahim paling banyak melahirkan penulis-penulis ternama di kawasan Nusantara ini. Penulis berkelas. Penulis hebat dan berbakat. Umumnya mereka berkiprah di berbagai medan bhakti. Ada sebagai dosen, penasihat hukum, aktivis, guru, penulis lepas, dan jurnalis.

Jika bertengger sebagai jurnalis bukan level media ecek-ecek, tetapi media bergengsi. Media ternama. Seperti, Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos  dan lain lain. Juga jurnalis TV yang mampu menghasilkan liputan mendalam. Liputan kelas kakap. Liputan yang mampu mempengaruhi kebijakan publik. Catatan-catatan kritis yang berdaya efek bagi kepentingan umum.

Karena itu tentang “produk” penulis atau jurnalis ternama yang sanggup bersaing di Jakarta sana, bukan perkara sulit bagi putera daerah asal Manggarai Timur. Karena memang, sentuhan pendidikan ala misionaris cukup berakar. Cukup merangsang untuk hidup dan menghidupkan. Sebagaimana panenan unggul, tentu berasal bibit yang unggul pula. Rahim Manggarai Timur cukup bergaransi soal penulis penulis hebat. Penulis berbakat alam.

Hanya kelemahan kecil yang sudah kronis pada penulis atau jurnalis asal Manggarai Timur. Yaitu, ada bersama untuk kebaikan bersama menghidupkan kekayaan tanah asal belum temukan jodoh. Hal itu di satu sisi bisa dimaklumi. Sebab langit berteduh dan bumi berpijak anak-anak rahim Manggarai Timur menyebar di beberapa pulau di Nusantara ini. Tetapi di sisi lain seharusnya perlu ada wadah yang menghimpun gagasan-gagasan positif untuk tanah asal. Agar pikiran konstruksi untuk kemajuan tanah lahir dijabarkan secara terstruktur dan tepat sasaran.

Memang sejauh ini ada segelintir putera-puteri asal Manggarai Timur yang selalu menyatakan keberpihakkannya. Selalu mereka ujudkan, sesuai kesempatan dan kapasitasnya. Berkesempatan membaca fenomena  sosial dan pembangunan di tanah lahir untuk kontrol dan perbaikan. Karena memang demikian tanggung jawab morilnya. Seperti kacang boleh lupa kulitnya, tetapi kacang tidak bisa lupa tanah.

Beda lagi, jika ada mau-maunya berkaitan dengan kepentingan politik. Kadang sock jago berlebihan. Tahu segala. Suka tampil dan cari panggung. Kondisi apapun selalu berpihak pada tanah asal. Meski cenderung berdiri pada sudut pandang di luar fakta sebenarnya. Cenderung skeptis tanpa dasar. Terkesan intelek dan berpihak. Padahal ada udang di balik batu.

  • Jala Tebar PPMN Matim

Wadah organisasi PPMN Manggarai Timur menjadi media strategis berjumpa. Dalam wadah inilah penulis-penulis hebat dan super yang bermukim di wilayah ini bersatu. Niat dan obsesi luhurnya sama dan senada untuk kebaikan bersama. Agar semua menjadi indah.

Karena itu PPMN Manggarai Timur dalam kiprah juang dan jala tebarnya  bertekad menjawabi spirit daerah setempat. Sebab Manggarai Timur sebagai kabupaten literasi dan Kurikulum Merdeka Belajar sedang menapaki puncak implementasinya. Dalam ranah demikian, hadirnya PPMN Manggarai Timur  sangat berarti dan strategis. Bisa “bermain” lebih leluasa. Berperan besar mendayasengatkan literasi berkarakter dalam rangka membentuk manusia-manusia berbudi pekerti. Pribadi-pribadi profil Pancasila yang sesungguhnya. Pribadi yang sadar dan berkapasitas. Pribadi yang berguna.

Kiprah ke arah itu bukan soal. Bukan tantangan yang membuat dahi berkerut. Sebab, selain potensi daerah yang “berminyak”, komposisi sumber daya di tubuh PPMN Manggarai Timur sangat kuat. Tak perlu diragukan. Kumpulan manusia berakal dan bermartabat. Tak ada kepalsuan. Punya kapasitas dan integritas mumpuni. Sudah teruji dalam gelanggang pelayanan. Teguh. Tak goyah direngkuh godaan dengan kekuataan apa pun.Potensi potensi itu telah disatueratkan dalam wadah PPMN Matim. Organisasi PPMN Manggarai Timur  menjadi kekuatan besar. Dasyat. Luar biasa. Semua hebat dan super. Saya bangga jadi bagian dari wabah ini.

Tetapi potensi dan ruang strategis itu menjadi tantangan bagi  jajaran pengurus PPMN Matim. Bukan butir jelajah, proses kreatifnya, selancar luncur di kubangan potensinya, tetapi bagaimana ‘sabda dan mutiara kekayaan” yang ditemukan itu bisa disebarwartakan.

Sebab, diakui, pengurus PPMN Matim sangat berkompeten dalam bidang tulis menulis. Ada sejumlah produk buku yang telah dihasilkan. Ada setumpuk naskah yang sudah siap diterbitkan. Tetapi persoalan keterbatasan biaya cetak  dan akomodasi kebutuhan demi kelancaran operasionalnya menjadi  kemelut rumit dan pelik bagi penulis lokal umumnya dan jajaran pengurus PPMN pada khususnya. Tak mengherankan, sebelum PPMN hadir, sejumlah  naskah yang sudah olah berulang ulang terpaksa harus  parkir begitu lama di lemari  atau rak buku. Melampaui durasi waktu inkubasi untuk editing naskah naskah yang ada itu

Tetapi kondisi itu, meski logika butuh logistik bukanlah batu sandungan bagi PPMN Manggarai Timur tidak berbuat apa-apa. PPMN Manggarai Timur akan buktikan dan selalu membuktikan. Bukan untuk bangga diri, tetapi karena memang PPMN Manggarai sudah berkarya. Karyalah yang berbicara yang kemudian bersatu dalam wadah PPPMN itu.

Karena itu mimpi besar Manggarai Timur adalah  punya penerbit sendiri. Bahkan jika tak ada aral merintang cepat atau lambat memiliki percetakan sendiri. Dengan demikian kekayaan kekayaan yang masih terselubung bisa dihimpun. Disatukan untuk penghuni masa depan Manggarai Timur.

Mimpi itu bukanlah mimpi di atas mimpi, tetapi mimpi yang kelak akan jadi nyata. Dan itu jadi bagian misi yang diperjuangkan bersama pengurus PPMN Manggarai Timur. Sebab target yang hendak diperjuangkan dan dicapai PPMN Manggarai Timur tidak sebatas menghimpun dan menerbitkan buku berisi potensi dan kearifan budaya lokal. Tetapi literasi menjalar ke semua wilayah. Kemerdekaan belajar diaransir dalam kiat dan strategi yang tepat kena dan berguna. Di sanalah siswa-siswi atau masyarakat luas Manggarai Timur merasakan literasi sebagai kebutuhan.

Salah satu cara ke arah itu adalah mendekatkan diri di lembaga pendidikan. Artinya pengurus dan anggota PPMN Manggarai Timur mendatangi sekolah-sekolah untuk promosi dan menggerakkan literasi.  Melatih dan mendampingi siswa-siswi hingga mampu memroduksi tulisan. Hasil tulisan inilah menjadi tanggung jawab PPMN Matim untuk diterbitkan.

Target dimaksud  bukan  berlebihan agar terkesan intelek. Atau sekadar bikin heboh. Tetapi sesungguhnya potensi di Manggarai Timur amat kaya dan beragam. Banyak warisan leluhur, kekayaan bathiniah, kearifan lokal  yang masih terkubur. Amat terbatas  mutiara mutiara yang ada itu   diangkathidupkan ke publik. Hanya  sedikit saja kekayaan yang ada itu “dihidupkan”

Hal itu  bukan sengaja. Atau berniat mempersetankan semua kekayaan yang ada itu. Banyak soal melingkupnya. Pertama,  tradisi oral tutur masih kuat mendominasi. “Dininabobokan” akibat belum merasa pentingnya menulis. Kedua, lembaga yang fokus di bidang literasi atau menghimpun kekayaan warisan leluhur  belum ada. Kalaupun ada sebatas kepentingan sesaat. Seperti tulisan untuk kebutuhan sekolah. Wisatawan intelektual yang hendak memenuhi standart  akademiknya.

Dalam kondisi itulah PPMN Matim bertekat mengkampanyekan penting dan mendesaknya kebutuhan literasi itu. Literasi baca tulis harus menjadi kebutuhan. Gaya hidup baru yang memerdekakan. Agar kemudian semua yang terberikan dari leluhur itu ditulis. Sebab setiap tulisan bersifat abadi.

Apalagi kekayaan mewaris itu masih terpelihara rapih jali hingga kini. Peninggalan-peninggalan sejarah  masih kokoh berdiri. Narasi narasi bersifat moral spiritual tetap terjaga. Ceritera-ceritera leluhur masih lekat ingat. Kekayaan itu menjadi modal bagi  PPMN Manggarai Timur memberdayakannya. Tidak hanya kampanye tetapi mengambil resiko positip mendokumentasikan  secara teratur sesuai karakter warisan masing masing kawasan.

Agar kemudian sampai pada kesadaran terpuji bahwa dari kampung  udik Manggarai Timur sanggup memberi kontribusi positip untuk merawat bersama kekayaan di wilayah nusantara ini. Agar Kurikulum Merdeka Belajar-Profil Pelajar Pancasila benar-benar tepat sasaran sesuai kearifan lokal. Lahir dari kedalaman potensi daerah Manggarai Timur sendiri. Karena Manggarai Timur bagian dari Nusantara nan luas ini.

Dalam keberagaman kita merawat bersama untuk mengharumkan tanah pusaka leluhur kita. Dari Jakarta untuk Nusantara, PPMN Manggarai Timur bertekat gelora dalam napas semangat ini,” dari Kampung Manggarai Timur untuk Nusantara!”. Mengapa tidak? PPMN Manggarai Timur akan buktikan! (*)

Share :

Baca Juga

Pokok pikiran

Sinar Terang atau Suram?

Pokok pikiran

Pleidoi Moral Denore.id

Pokok pikiran

Kecenderungan Gaya Hidup Remaja

Pokok pikiran

Eksploitasi Caci:  Malapetaka atau Berkah?

Pokok pikiran

Mempersoalkan Belis dalam Budaya Manggarai

Pokok pikiran

Kelangkaan BBM, Salah Siapa?

Pokok pikiran

Sipri Habur Kontra Heremias Dupa

Pokok pikiran

Bolotisme Itu Nyata