Home / Budaya

Sabtu, 9 April 2022 - 14:51 WIB

Desa Wisata Masih Stagnan, Forkoma Matim Tawarkan Solusi Strategis

Peserta diskusi sedang membedah bersama persolan desa wisata. Foto/Forkoma PMKRI Matim

Peserta diskusi sedang membedah bersama persolan desa wisata. Foto/Forkoma PMKRI Matim

BORONG, DENORE, ID—Desa wisata di wilayah Kabupaten Manggarai Timur masih diselimuti beragam persoalan. Akibatnya belum terlihat geliat konkrit akselesarinya. Sejauh ini masih stagnan sehingga butuh pendampingan serius. Karena itu Forkoma Matim menawarkan solusi strategis agar desa wisata di Manggarai Timur, Flores, NTT berdaya bagi daerah dan masyarakat sekitar.

Hal itu terungkap dalam diskusi publik yang berlangsung di Kafe For Rest Borong, Jumat (8/4/2022). Diskusi publik yang diprakarsai Forkoma PMKRI Matim itu merupakan tindak lanjut studi kualitatif terhadap lima desa wisata yang ditetapkan Pemkab Manggarai Timur tahun 2020 lalu. Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara, yakni Bupati Manggarai Timur, Ande Agas, S.H.M.Hum, Anggota DPRD Matim, Lucius Modo, M.Th dan Ketua Advokasi dan penelitian Forkoma PMKRI Matim, Yergom Gorman. Hadir dalam diskusi publik itu sejumlah pimpinan OPD, perwakilan Komunitas, dan perwakilan dari berbagai sekolah di Borong.

Yergo Gorman menyebutkan, hasil studi kualitatif terhadap lima desa wisata di Manggarai Timur menunjukkan, desa wisata tersebut masih diliputi  banyak persoalan yang membutuhkan banyak pendampingan serius.  Selain pendampingan serius, lanjut pengamat kebijakan publik ini, perlu pembenahan infrastruktur menuju desa wisata. sebab, menurut alumni pasca sarjana Universitas Merdeka Malang itu, akses infrastruktur buruk menjadi kendala bagi wisatawan mengakses desa wisata. Karena itu sarannya, pasca pembaptisan Desa Wisata, perlu diikuti kebijakan-kebijakan berkelanjutan agar desa-desa wisata itu tidak stagnan.

Selain infrastruktur, alumnus PMKRI Cabang Malang itu, menambahkan literasi desa wisata juga  perlu terus didorong dalam rangka menumbuhkembangkan pemahaman warga setempat terkait pengembangan desa wisata. “Pemberdayaan masyarakat lewat program-program literasi wisata. Literasi itu mutlak sebab status desa wisata kita masih rintisan sehingga butuh  perhatian lebih,”bebernya.

Menurut Yergo ada empat persoalan serius yang melingkup desa wisata. Yakni, pertama, minimnya kesadaran partisipatif masyarakat di mana enggannya kelompok masyarakat mengambil peran dan terlibat mendukung geliat wisata desa. Kedua, lemahnya dukungan program pemerintah desa setempat untuk menggerakkan partisipasi warga dalam aktivitas wisata desa dan pembinaan Pokdarwis .Problem ini secara tidak langsung turut mempengaruhi upaya efektivitas pelaksanaan desa wisata.  Ketiga, efek politik Pilkades mempengaruhi  partisipasi warga. Kekalahan dalam politik pilkades mengakibatkan sebagian masyarakat desa cenderung apatis terhadap pengembangan wisata desa.  Keempat, refocusing anggaran mengakibatkan anggaran pembangunan fisik di kawasan wisata yang sudah ditetapkan dalam APBDes  harus disunat untuk penanganan Covid 19.

Terhadap empat permasalahan itu, saran Yergo, Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur perlu mengendalikan kebijakan penetapan desa wisata melalui pemberdayaan/pembinaan para kepala desa, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) melalui program Dispar goes to villages secara berkala. Konsolidasi bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang relevan dengan pemberdayaan desa wisata, seperti DPMD, Dinas PU, Pertanian, Perdagangan, dan sebagainya untuk penanganan kolektif terhadap isu isu pembangunan di desa wisata yang berpengaruh pada pelaksanaan desa wisata seperti infrastruktur jalan raya, kepemimpinan kepala desa, produk atau tanaman lokal setempat, dan sebagainya.

Yergo Gorman, memaparkan hasil penelitiannya. Foto/Forkoma Matim

Untuk Pemerintah Desa, terang Yergon, perlu penguatan kapasitas internal kelembagaan yang berkaitan dengan agenda pengembangan, pemberdayaan, pembinaan, pelatihan, desa wisata. Merumuskan dan menyusun agenda kebijakan atau program kerja yang relevan dengan tipe desa wisata rintisan, seperti gerakan literasi wisata desa kepada internal kelembagaan pemerintah desa, pembinaan dan pemberdayaan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan literasi wisata desa kepada masyarakat.

Membangun kemitraan dengan kelompok kelompok, komunitas eksternal, LSM, peneliti yang  oncern dengan isu-isu pembangunan desa wisata. Political will terhadap sektor pariwisata desa sebagai salah satu program strategis dalam pembangunan desa yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.Merangkul seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung pengembangan desa menjadi desa wisata yang berkeadilan dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sementara khusus kelompok Sadar Wisata di desa wisata perlu penguatan kapasitas internal melalui materi atau program literasi wisata desa. Komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah desa setempat mengenai kerja kerja pengembangan wisata desa. Mengidentifikasi pengelolaan potensi potensi wisata di desa. Jalin  kemitraan dengan kelompok kelompok eksternal, LSM, peneliti, komunitas dalam membantu pengembangan wisata desa.

Desa Wisata Program Strategis Pemkab Matim

Bupati Manggarai Timur,  Agas Andreas dalam pemaparannya menyampaikan, saat ini Pemkab Manggarai Timur mendorong visi pariwisata demi “Terwujudnya Pembangunan Kepariwisataan Manggarai Timur Sebagai Destinasi Pariwisata Unggulan Yang Berdaya Saing”. Visi tersebut dikristalkan dalam lima agenda pokok. Yakni, melestarikan dan Melindungi Alam dan Budaya Masyarakat Manggarai Timur. Mengoptimalkan Potensi Sumber Daya Alam  yang Khas dan Berwawasan Lingkungan. Meningkatkan Daya Saing Pariwisata Manggarai Timur di Tingkat Nasional dan Internasional. Meningkatkan Peran Masyarakat Sebagai Subjek Dalam Pembangunan Kepariwisataan Manggarai Timur, serta Mewujudkan pelaku usaha pariwisata yang mandiri, bertanggung jawab dan berdaya saing.  

Foto bersama usai diskusi publik. Foto/Forkoma Matim

Kunci utama untuk mendukung agenda tersebut, lanjut Bupati Agas, adalah ketersediaan infrastruktur jalan yang baik. Dia menyebutkan pemkab Matim terus mengejar pembangunan infrastruktur jalan diberbagai wilayah. “Kondisi APBD Matim menjadi kendala pembangunan infrastruktur tidak bisa diselesaikan dengan tuntas,” katanya.

Ketua FORKOMA PMKRI Matim, Yustinus Rani, usai diskusi publik kepada wartawan mengharapkan dari diskusi publik ini dapat berdampak positif bagi pembangunan pariwisata di Manggarai Timur.”Semoga diskusi ini memberi kontribusi dalam pembangunan pariwisata di Manggarai Timur ini ke depan, semoga kepedulian semua pihak terkait pembangunan desa wisata kedepan semakin baik, “kata Yustinus.

Ke depannya, tegas Tino Rani, Forkoma Matim akan terus menggagas diskusi seputar pembangunan Manggarai Timur  dengan  mengusung berbagai tema. (Tim Forkoma PMKRI Matim)

Share :

Baca Juga

Budaya

Cepi Watu, Ibarat Kasih yang Tak Sampai

Budaya

SMPN Satap Pocong Tampil Gemilang di Panggung Expo Pendidikan Matim

Budaya

Tarian Vera, Tradisi Merawat Makna

Budaya

Tua Adat Gelar Ritual Tesi di Rumah Gendang Bondo

Budaya

Nyanyian Hati di Jembatan Cambir (2)

Budaya

SMPN 3 Puntu Torok Golo Pamerkan ‘Sombu Kabo’ di Acara Expo Pendidikan Matim

Budaya

Nyanyian Hati di Jembatan Cambir (1)

Budaya

Cerlang Budaya SMP Negeri 5 Borong