Fide et Amor

BORONG, DENORE.ID–Tatkala  Forum Komunikasi Alumni PMKRI (Forkoma) Manggarai Timur mengujudkan sejumput kasih bagi kaum lansia di Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, 18-19 Agustus 2023 lalu, segumpal tanya melingkup. Beragam perspektif muncul dengan bebasnya. Ada  pesan apa yang hendak ditularkan Forkoma Manggarai Timur? Apakah politik? Atau nuansa lain berbalut kasih?

Bagi Forkoma  Matim, pertanyaan itu sah-sah saja. Tapi juga berlebihan. Skepstis murahan. Dan itu umumnya muncul dari kaum mapan berhati iblis. Mereka-mereka yang kurang peka merekam degup jantung sesama warga berkekurangan.  Mereka yang pandai mengobral janji. Mereka yang sudah nyaman dengan keadaannya. Mereka yang sebatas melirik saja dan berbusa soal retorika.

Sesungguhnya apa yang dinyatakan Forkoma Matim semata-mata amal cinta kasih bagi sesama.  Fide et Amor, kata orang Latin. Dan amal yang dinyatakan itu bukan kaget-kagetan. Bukan eforia mencari nama dan pangggung. No. Semuanya berlatar  permenungan mendalam. Refleksi yang menyentuh kalbu. Hingga lahirlah keprihatinan dan belarasa.

Itu sebabnya menyongsong HUT Kemerdekaan ke-78 RI, Forkoma Matim menukarkan  energi. Energi itu bertautan, maka membantu dan melayani sesama bagi kaum lansia di Desa Gurung Liwut semata-mata  menjalarkan pengamalan tak terbatas bagi sesama. Sebab mereka membutuhkannya. Mereka sedang mendamba, karena memang, yang namanya gratis baru pertama kali dirasakan warga desa itu.

Tidaklah berlebihan ketika Tim Medis bersama Ketua Forkoma Matim, Tino Rani dan anggotanya mendaratkan langkah di desa itu terungkap selaksa terima kasih. Sebab tak  pernah mereka duga adanya pelayanan kesehatan gratis bagi kaum lansia di wilayah itu.  Bagi mereka kehadiran Forkoma  Matim bersama  Tim Medis menjadi tanda “rahmat” tak bertepi.

Karena itu  tidaklah berlebihan Kepala Desa Gurung Liwut, Nikodemus Jematu, menyatakan selaksa terima kasih bagi Forkoma Matim yang telah membantu warganya. Meski, diakuinya ucapan terima kasih tak dapat membalas jasa baik itu.  Lebih dari semuanya dia ujudkan kepada sang pemberi hidup agar Forkoma  Matim terus berkibar mengamalkan kasih bagi sesama warga.

Hal senada  disampaikan warga lansia yang mendapat pelayanan, Agata Renung (63). Dia mengatakan sejauh  pengetahuannya  belum ada kegiatan serupa di wilayah Desa Gurung Liwut.  Karena itu pihaknya mengaku senang  adanya  pengobatan gratis dari  Forkoma Matim.

Ketua Forkoma Matim, Tino Rani foto bersama warga lansia pada saat pelayanan kesehatan gratis bagi warga Desa Gurung Liwut/Foto/Dok. Forkoma Matim

Sementara Donatus Jehaman (62) berharap kegiatan pemeriksaan gratis dari  Forkoma  Matim terus berlanjut. Harapan tersebut berlatar antusias warga saat  kegiatan periksa gratis kesehatan itu  berlangsung.  Apalagi sejauh ini, akibat keterbatasan uang  warga lalai periksa kesehatan di puskesmas terdekat. Meski ada BPJS, namun tidak semua warga kantongi  garansi kesehatan tersebut.

  • 130 Warga Terlayani

Pada saat kegiatan berlangsung, Forkoma  Matim menghadirkan dr. Dedek Hardryan dibantu Bidan Modesta bersama tim medis Pustu Mbeling. Pelayanan berlangsung bagi warga  Kampung  Mbeling, Rehes, Tuwa dan Pesek.  Terdapat 62 warga lansia di wilayah itu diperiksa.

Berberapa jenis penyakit yang berhasil didiagnosa di antaranya gula darah, kolesterol, dan hipertensi.  Setelah diperiksa para lansia mendapat obat-obatan sesuai penyakit yang diderita. Sementara pelayanan hari kedua berlangsung di Kampung Lidi dan Paka. Terkover  68 warga terlayani. Total warga lansia di Desa Gurung Liwut yang mendapat pengobatan gratis sebanyak 130 orang.

  • Semuanya karena Cinta

 Ketua Forkoma Matim, Tino Rani,  mengatakan kegiatan pengobatan gratis bagi lansia merupakan cara Forkoma  Matim  memaknai HUT ke- 78 Kemerdekaan   RI. Sebab selama ini, terangnya, peringatan hari kemerdekaan itu tidak dimaknai secara sungguh-sungguh. Bahkan dianggap rutinitas tahuan setiap tiba momen tersebut.

Karena itu Forkoma  Matim, lebih memilih cara yang lebih elegan. Yaitu pengobatan gratis bagi para lansia. Pemaknaan ini juga menjadi salah satu bentuk mengurai benang kusut kesehatan di Manggarai Timur yang kerapkali diselimuti banyak persoalan.

Tino Rani menjelaskan, banyak persoalan yang menjadi dasar kajian Forkoma  Matim,  namun salah satu solusinya  memilih kelompok masyarakat  lansia sebagai sasaran utama  kegiatan  pengobatan gratis.

“Kelompok lansia itu masyarakat yang melahirkan generasi. Bahkan di usia  yang  sudah tidak muda lagi, mereka masih bekerja menghidupi keluarga dan cucu-cucunya sampai mereka lupa akan kondisi kesehatannya. Kondisi ini bukan hanya di Desa Gurung Liwut, tetapi hampir di seluruh wilayah Manggarai Timur,” jelas Tino Rani seraya menambahkan idealnya,  para lansia itu harus  memerlukan  waktu istirahat yang cukup.

Menurutnya, segmen lansia   jarang mendapat atensi  yang tinggi dari  pemerintah terutama aspek kesehatan. Padahal mereka adalah pahlawan keluarga. Atas dasar itulah Forkoma Matim memberi perhatian lebih bagi mereka.

“Terima kasih berlipat bagi senior-senior Forkoma Matim yang mendukung kegiatan ini. Mereka memberi dari kekurangan bukan dari kelebihan. Karena cinta, mereka memberi. Inilah yang baik, indah, dan bermakna. Seperti orang Latin bilang Numquam te Amare Desistam,” katanya. (klb/An/Humas FORKOMA Matim)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: