Home / Serba serbi

Senin, 21 Maret 2022 - 11:18 WIB

Gol A Gong,Menabur Asa di Tanah Rongga Paundoa (4)

Sapaan Adat-Seorang siswa SDK Paundoa, Methodius Brayen Jun, sedang menyapa secara adat Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, saat berkunjung ke sekolah itu. Foto/ Dokumentasi SDK Paundoa

Sapaan Adat-Seorang siswa SDK Paundoa, Methodius Brayen Jun, sedang menyapa secara adat Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, saat berkunjung ke sekolah itu. Foto/ Dokumentasi SDK Paundoa

Catatan Redaksi.Terhitung sejak 13 Maret sampai 15 Maret 2022, Duta Baca Indonesia, Gol A Gong berada di Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Manggarai Timur memfasilitasi kelancaran kegiatan rombongan selama berada di Borong. Di bawah tagline Membaca itu Sehat, Menulis itu Hebat, ziarah Duta Baca Indonesia selama di Borong Manggarai Timur memberi energi baru. Seperti apa pernak-pernik jenaka jelajahnya, apa saja motivasi digagas Gol A Gong, Denore.id akan menurunkan secara serial mulai edisi ini.

Selasa (15/3/2022).Pukul 13.00 Wita, warga Paundoa, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, ramai ramai buang langkah menuju halaman SDK Paundoa. Mereka datang seraya menenteng harap. Mereka hadir mendambakan oase baru atas kunjungan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong.

Mereka menunggu dengan sabar. Menanti penuh pengertian. Meski putaran waktu kiat seret ke arah senja, mereka tetap setia menunggu.Mereka tak kuasa menahan  harap, meski jengkal jengkal waktu yang lewat terasa  amat panjang. Lumatan rasa yang mengiris.

Sebab  lebih dari tiga jam mereka menahan ingin. Merindu. Enggan tinggalkan halaman sekolah. Mereka tetap bertahan untuk peradaban sejarah di tanah pusakanya.

 Betapa tidak. Keresehan menyelimut. Gugat tanya menjadi segumpal bingung. Penulis pun harus yakinkan mereka. Gol A Gong, sedang berada di Seminari Kisol, mengakrabkan literasi di sekolah calon pastor itu. Bahwa kunjungan ke SDK Paundoa itu pasti setelah acara di Seminari Kisol selesai.

Hantar Tamu/Siswi SDK Paundoa bersama tokoh adat Paundoa sedang merayakan tarian jemput tamu untuk menghantar Duta Baca Indonesia, Gol A Gong ke halaman SDK Paundoa. Foto/dokumentasi SDK Paundoa

Beruntung Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Tino Nanga, punya cara. Biar dahaga rindu  warga Paundoa terus melumat. Agar ingin tetaplah menjadi tarian hati yang terus menari. Biarlah batang gelagah harap tetap terawat. Pada ladang ladang hati yang terus menanti. Dan, pada akhirnya dinyatakan. Yang tersembunyi dalam belitan rindu menyiksa, jadi akrab. Karena hati nan rindu menjanjikan damai.

Mengapa rindu selalu menyelimut hati keluarga besar SDK Paundoa, tokoh adat dan orang tua siswa? Gelagat tanya menambah itu adalah mazmur harap yang tak tertahankan. Ada guratan bangga. Pun sepucuk impian yang mengembara.

Sebab seturut jejak sejarah, orang pusat pertama yang mendaratkan langkah di SDK Paundoa adalah Gol A Gong. Maka tak berlebihan jika endap endap tanya menjadi liar agar harapan segera terjawab. Penasaran, seperti sedang menusuk-nusuk. Ingin yang membuncah.

Dan akhirnya, ketika senja kian merapat. Tiga unit mobil merayap pelan. Menyisir jalan aspal yang sudah terkelupas hingga di tiba pintu masuk halaman SDK Paundoa.

Warga senang. Bulir-bulir syair Rongga menaglir apik dalam sapaan penuh makna. Methodius Brayen, siswa SDK Paundoa menarasikannya dengan lugas. Tanpa keriting, bernas, penuh emosi menggetarkan.

Tak cuma itu. Sejumlah kekayaan budaya menyambut tamu dirayapentaskan. Karena mereka sangat siap menyambut kedatangan tamu istimewa, Gol A Gong.

Karena itu Kepala Sekolah SDK Paundoa, Bertolodus Fan, menyatakan dengan hormatnya.  Bahwa kehadiran Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, di tanah Rongga Paundoa adalah kehormatan tak bertepi. Hati riang dalam madah gembira. Harap meluap luap. Sebab kehadiran Gol A Gong menjadi jejak sejarah yang selalu membekas. Menjarah. Sejarah itu menjadi butiran kisah yang selalu dikenang.

“Kami memaknai kunjungan ini sebagai lembar sejarah. Bentuk perhatian dan kontribusi pemerintah. Baik Pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur  terhadap SDK Paundoa,” katanya.

Sejujurnya, jelas Kepsek Berto, SDK Paundoa merupakan satu-satunya lembaga pendidikan tertua di kawasan Selatan Kota Komba. Kawasan dihuni sekelompok etnik kecil bernama Rongga. Usia sekolah ini sudah tua. Cukup umur dalam ziarahnya. Tahun 2023 mendatang genap berusia 70 Tahun sejak berdirinya Oktober 1953 lalu.

Syukur nan membanggakan, jelasnya,  SDK Paundoa termasuk salah satu  sekolah penggerak. Status ini  tidak sebatas label pelengkap, tetapi serentak dengan itu sejumlah ikutan aturan dan  perangkat keras dan lunak ada di dalamnya.

Salah satu aspek penting sekolah penggerak adalah  pembelajarannya. Yakni kurikulum berbasis merdeka belajar. Kami menangkap peluang itu melalui kegiatan literasi sekolah dengan fokus utama  memahami jejak sejarah budaya Vera beserta seluruh aspek yang melingkupinya.

Vera, demikian Kepsek Berto,adalah tarian kolosal, yang di dalamnya mempresetansekan kehidupan manusia orang Rongga. Karena itu kegiatan literasi sekolah yang berfokus pada Vera ini tidak hanya berbasis siswa tetapi melibatkan, tokoh-tokoh pemangku adat setempat, elemen pendukung, figur-figur yang paham tentang Vera itu.

Esensi utama Vera menjadi basis pembelajaran literasi dengan target; bagi siswa-siswi  kelas 1-sampai 3 diajarkan untuk paham jejak sejarah Vera dan fakta peradaban di baliknya. Sementara kelas IV sampai VI, selain pengetahuan mereka diajarkan bagaimana merayakan tarian Vera itu sesuai makna pentasnya.

Sejauh ini narasi tentang Vera itu sedang dalam proses. Tekat kami literasi di SDK Paundoa menghasilkan buku tentang Vera yang kemudian menjadi buku pegangan  pembelajaran muatan lokal. Inilah mimpi besar berliterasi di SDK Paundoa. Meski kadang gundah bergelantung. Cemas mendera. Terutama biaya cetak bukunya. “Kami berharap jejak langkah tim pusat kali ini meninggalkan jejak bermartabat,” katanya.

Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, menangkap sekelumit impian yang sedang dirajut keluarga SDK Paundoa. Menurutnya literasi, hendaknya, dimengerti sebagai pola didik agar peserta didik memahami kekayaan batiniah yang dipunyai orang Rongga Paundoa.

Apa yang sedang dijalani SDK Paundoa, jelasnya, upaya sadar literasi sekolah berbasis budaya, berbasis tarian. Berbasis kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Harapnya mimpi besar menjadikan buku bisa terwujud.

Kecuali itu, sebagai Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, berjanji  membantu. Terutama ketika adanya perlombaan tingkat Nasional berkaitan dengan narasai budaya. “Vera ini unik. Ada gerak dan narasinya. Kompilasi gerak tarian dan pesannya sangat kuat. Saya siap membantu apabila naskah yang sedang disusun ini bisa ikut  dalam perlombaan tingkat nasional,” katanya. (Kanis Lina Bana/habis)

Share :

Baca Juga

Serba serbi

Penderita Tumor di Matim Butuh Sentuhan Kasih Sesama

Serba serbi

Pejuang Berhati Emas Itu Pergi..! (Mengenang Bapak Mus Wanggut)

Serba serbi

Dan Aku  Cemburu Mengenang Bapak Donatus Datur

Serba serbi

Hari Kartini, Puan : Kita Harus Mampu Menghayati

Serba serbi

Cinta Kandas di Bantalan Dermaga

Serba serbi

OMK Menge Galang Dana Untuk Pemberkatan Kapela

Serba serbi

Kata Puan Penjabat Kepala Daerah Harus Kerja “All Out” Buat Rakyat

Serba serbi

Siswa SMPN 14 Borong Akui Kepsek Jarang Masuk Sekolah