Home / Pokok pikiran

Minggu, 17 April 2022 - 03:30 WIB

Matim tidak Butuh Wakil Bupati

Kanis Lina Bana/ist

Kanis Lina Bana/ist

Oleh Kanis Lina Bana *

Tidak bermaksud mengusik nyenyak tidur panjangmu Bapak Stefanus Jaghur. Bukan pula tidak menaruh hormat kepadamu yang baru beberapa hari tinggalkan buana raya ini. Bukan juga karena terjebak pusaran kepentingan politik ambisi dangkal akan kuasa dan jabatan yang serba tegang dirindukan  banyak orang.

 Tetapi, apa yang dinarasikan ini, hanya sepotong gelisah dari bait bait liar pasca kepergianmu. Engkau pamit di tengah jagat pelayanan. Dan itu, bukan kehendakmu, tetapi kehendak sang pemilik hidup. Untukmu lantun doa selalu kami daraskan agar dikau bersatu mesra dalam pelukan surgawi bersahut.

Pada ruang berkelas ini, saya urun terlibat dalam diskusi segar, hangat, dan menggoda lantaran realitas politik belakangan ini. Sebab, wacana pergantian pasca kematianmu Bapak Stefanus Jaghur semakin  gencar, berkedip, berkecambah tak terbendung. Di mana mana, hampir setiap perjumpaan politik, materi diskusi selalu melingkar pada kursi lowong jabatan Wakil Bupati Manggarai Timur.

Itu sebabnya, spekulasi kepentingan melesat bebas dengan skala bidik kiatnya. Semakin  kencang “ditiup”  ketika Dewan menggelar paripurna pemberhentian Stefanus Jaghur dari jabatan Wakil Bupati Manggarai Timur.  Selanjutnya, jabatan yang lowong itu harus segera diisi.Perintah Undang Undang di Republik Indonesia ini, demikian hukumnya.

Beriringan dengan itu figur  figur mulai dielus manja. Kian mengerucut. Beberapa kandidat pun sudah nyatakan sikap. Siap menduduki jabatan terhormat itu. Siap jalankan amanah. Peluang terbesar mengisi kursi kosong itu, tentunya, ada pada partai koalisi. Koalisi partai jagoan utamanya. Sebab merekalah yang  berhasil menghantar  Ande Agas, SH.MHum- Stefanus Jaghur, menduduki jabatan Bupati-Wakil Bupati Manggarai Timur periode 2019-2024.

Itu sebabnya, figur koalisi dari PKS dan PBB sudah terang-terangan  menyatakan sikap. Bahkan manuver untuk merebut “kursi panas” itu semakin seru, sengit, dan menarik. Sipri Habur dari PBB sudah siap. Demikian figur dari PKS tidak mau ketinggalan. Pokoknya  lebih dari 100 % sudah siap. Ini wajar untuk gawe yang namanya politik. Siapa pun kader pasti siap selalu-maju tak gentar. Siapa yang ogah terhadap peluang emas dengan biaya kecil? Pasti jadi rebutan meski  kapasitas dan kapabilitas, “masih kabur”.

Yang belum kelihatan elus figurnya dari PAN sendiri. Masih “malu malu”. Sempat bergulir nama Heremias Dupa, tetapi masih sebatas hembusan liar. Sementara figur di luar partai koalisi belum satu pun  digadang-gadangi. Kecuali “poling ecek ecek” melansir beberapa nama dengan potensi kecil nan kerdil.

Maafkanlah

Yang mengusik kepekaan budi saya adalah putaran roda waktu antara kepergian Bapak Stefanus Jaghur dengan paripurna Dewan yang membahas penggantinya. Terkesan kuat kita kurang menaruh hormat kepada alm. Stefanus Jaghur. Kurang empati.  Seolah olah mahkota yang harus diperebutkan itu harus segera direngkuh.

Kita lalai pada aspek lain. Padahal jabatan lowong itu harus diisi tak ada yang menampiknya. Tidak ada alasan lain untuk tidak. Aturan sudah  jelas semuanya. Tetapi, seyogyanya, nurani dan akhlak kita perlu hening dan berbisik. Sebagaimana orang Manggarai, kita pantas meresap dalam pendar pendar adat budaya. Sekurang-kurangnya 40 hari atau setelah prosesi adat menghantar kepergiaan Bapak Sefanus Jaghur ke alam lain, baru kita bahas penggantinya.

Sebab seturut kepercayaan asli  kita-orang Rongga, misalnya, sebelum ritual sepo toko lulu huki  – nggua– ritual menghantar arwah dan putusnya mata rantai hubungan dengan kehidupan di bumi. Atau dalam bahasa Manggarai “Paka Dhi’a”, kita percaya, arwah bersangkutan masih berkeliaran. Bergentayangan. Masih melayang. Mengambang. Belum bergerak jalan ke alam lain. Semestinya di titik ini, kita berpulang pada kebajikan kebajikan yang diletakkan  leluhur.

Kalau pun undang undang perintahkan secepatnya, setidaknya, kita masih punya “undang  undang adat”. Adat Manggarai yang mengatur bagaimana seharusnya bersikap terhadap orang yang telah meninggal. Kita bisa pakai alasan itu sebagai bagian perwujudan akhlak  tahu menghargai dan menghormati warisan leluhur.

Tetapi, anehnya kita justeru mengabaikan kekayaan peradaban itu. Baru beberapa hari beliau pulang kita sudah kasak kusuk. Sepertinya kita kurang insaf akan kearifan budaya. Mata batin kita seolah-olah rabun akan kemanusiaan manusiawi seorang alm. Stefanus Jaghur. Kita  lebih  melotot pada politik kepentingan semata.

Seyogyanya, meski kamar berbeda antara adat dan politik, toh kita perlu berbela derita dengan istri, anak anak, cucu, dan keluarga yang ditinggalkan Bapak Stefanus Jaghur. Nah..di sinilah  nurani kita dipertaruhkan. Toh, pergantian jabatan Wakil Bupati Manggarai Timur yang lowong itu, bukan perkara berat dipikul. Malah amat ringan dijinjing.

Maafkanlah “kecerobohan” politik anak anak tanah asalmu Bapak Stefanus Jaghur. Sebab mereka tidak tahu apa yang seharusnya mereka bersikap terhadapmu. Jasamu abadi.

Penting dan  Mendesak

Sesuai aturan, pasca kepergian Bapak Stefanus Jaghur jabatan Wakil Bupati Manggarai Timur wajib diisi. Agar abdi pelayanan tetap berjalan. Agar kehendak baik tetap bestari bagi masyarakat yang rindu kian sesak dan mengharuskan

Akan tetapi, pertanyaan urgen yang melampuai semua itu adalah, “penting dan mendesakkah  jabatan Wakil Bupati Manggarai Timur segera diisi, mengingat durasi waktu tersisa dari periodesasi masa jabatan   tinggal sejengkal?” Apakah dengan adanya figur baru Wakil Bupati Manggarai Timur bakal mendongkrak api semangat pelayanan? Apakah dengan itu juga akselerasi bakal “bercahaya” ke tengah  masyarakat hingga meraya-hangat dengan fasilitas memadai?

Hemat saya, yang benar benar diuntungkan hanya wakil bupati  itu sendiri. Dari sisi jabatan dikatrol menjadi Wakil Bupati Manggarai Timur. Tercatat dalam lembar sejarah. Ikutan prevelese lain dengan sendirinya melekat. Dengan itu anggaran daerah harus dikuras. Padahal dari sisi pelayanan hanya untuk acara seremoni seremoni saja. Tidak “bertaring” untuk bertarung mendatangkan uang bagi daerah. Apalagi jabatan wakil bupati itu “sekadar” “ban serep”. Untuk apa jabatan “ban serep” yang ujung-ujungnya menghabiskan uang Negara?

Karena itu untuk durasi waktu yang tersisa ini. Tinggal setahun ke depan ini, Manggarai Timur tidak butuh seorang wakil bupati. Bupati Ande Agas, SH.MHum,  amat sanggup untuk atur roda pembangunan dan pemerintahan di sia sisa waktu masa jabatan yang ada.

Apalagi untuk daerah bermeterai miskin ekstrem. Perlu kita insaf bersama. Anggaran pada  tahun tahun  lewat banyak disunat untuk urusan Covid-19. Kita masih punya utang pinjaman Rp 150 M di pihak ketiga. Kita juga tak lama lagi bakal menggelar pesta demokrasi yang dengannya menelan biaya tidak sedikit. Jika kita menambah pos anggaran baru untuk mencukupi kebutuhan jabatan wakil bupati hanya bakal tambah beban baru lagi. “Jangan ah!”

Belajar dari Drs. Anthony Bagul Dagur, M.Si

Memang politik, tetaplah  dengan segala kemaslatannya.Tetapi politik adalah “sakramen kehidupan”. Karena itu kita perlu berpikir jernih. Bersikap arif. Lebih baik miskin struktur kaya fungsi dari pada gemuk struktur speed pelayanan lemah-berjalan di tempat.

Tentu, ingatan kita masih segar pengalaman di Manggarai. Pada periode 2000/2005,  saat, Drs. Anhony Bagul Dagur, M.Si-Makus Djadur menakhodai Manggarai. Dalam perjalanannya, Wakil Bupati, Markus Djadur “diangkut” pulang ke tanah asal. Tak lama berselang jabatan lowong itu diperebutkan. Didiskusikan.

Tetapi Bupati Anthony Bagur bersikap lain. Beliau tidak menghendaki jabatan yang pernah diemban Markus Djadur itu harus diisi. Meski tudingan dan nista terhadap Bupati Anthony Bagul Dagur  mengalir “bak tsunami”. Menukik hingga wilayah privaci, tetapi Bupati Anthony Bagul Dagur tak bergeming. Sikapnya mempersetankan semuanya itu seraya menjalankan tugas tanpa wakil bupati  hingga masa jabatannya usai.

Lalu Manggarai Timur? “Penting dan mendesakkah kursi jabatan yang ditinggalkan Stefanus Jaghur harus diisi?” Semuanya  bergantung Bupati Ande  S.H.M.Hum, sendiri. 

Memang, dinamika politik yang berkembang saat ini agak terjepit. Kurang memihak. Kurang beruntung. Karena itu saran saya ambil jalan tengah-damai.  Bukan untuk cari aman. Bukan pula untuk snobisme.

  Bercerminlah dari Bupati Anthony Bagul Dagur. Sangat elok jika Bupati Ande Agas menjejaki pengalaman itu. Agar daerah diuntungkan dan sejarah  tercipta tetap mewaris bestari. Bahwa Manggarai Timur pada periode 2019/2024 dinakhodai Ande Agas-Stefanus Jaghur.

Sekali lagi apa yang saya tawarkan ini,  tanpa dilandasi sentimen politik ala jebakan batman. Atau berlagak sombong dan sock pahlawan. Sesungguhnya di masa jabatan yang sisa ini, Manggarai Timur tidak butuh wakil bupati. Untuk apalagi. Sebab, Bupati Ande Agas mampu kendalikan Manggarai Timur. Kira kira begitu. (*)

Penulis Pemimpin Umum Denore.id. Tinggal di Satar Peot-Borong.

Share :

Baca Juga

Pokok pikiran

Mempersoalkan Belis dalam Budaya Manggarai (Bagian-2)

Pokok pikiran

Kecenderungan Gaya Hidup Remaja

Pokok pikiran

Tarian Vera, Tradisi Merawat Makna (2)

Pokok pikiran

Ciko Niot

Pokok pikiran

Sinar Terang atau Suram?

Pokok pikiran

“Tuhan, Kau Memang Hebat!”

Pokok pikiran

Kelangkaan BBM, Salah Siapa?

Pokok pikiran

Guru Sebagai Sahabat, Bukan Musuh