Home / Budaya

Rabu, 16 Februari 2022 - 03:27 WIB

Membangun Sinergi dan Menjaga Aset Budaya Bangsa

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA,DENORE.ID- Kaukus Perempuan Parlemen Indonesia (KPP-RI) menggelar pameran batik bertajuk RUPA KARYA (Ruang Pameran Karya Anak Bangsa) di Selasar Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Dalam pameran yang berlangsung pada 14-18 Februari 2022 ini dipamerkan 20 nominasi karya terpilih Lomba Desain Batik Nasional yang diselenggarakan KPP-RI sejak November 2021 lalu, bertema “Perempuan dan Rempah Indonesia” dan telah melalui sesi penjurian oleh tim juri yang dibentuk KPP-RI. Pengumuman karya terpilih akan diselenggarakan pada Jumat, 18 Februari 2022 oleh Ketua DPR RI, Dr. (HC) Puan Maharani.

Presidium KPP-RI, Hj. Dewi Asmara, dalam sambutan tertulisnya (14/02) menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan salah satu wujud komitmen KPP-RI dalam mendukung upaya pelestarian budaya nusantara melalui batik. kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai upaya melestarikan rempah khas Indonesia yang diwujudkan melalui kreativitas dalam motif batik Indonesia.

“KPP-RI mendukung UMKM untuk terus meningkatkan kreativitas khususnya dalam upaya pelestarian budaya yang diselaraskan dengan kekayaan alam negeri berupa rempah-rempah yang juga ikut mewarnai serat rupa batik karya anak negeri ini,” tutur Dewi Asmara.

Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar ini juga menyatakan, selain memiliki kekayaan aneka rempah, Indonesia juga berlimpah dengan berbagai tanaman yang dapat dijadikan pewarna alami batik. Misalnya saga, kunyit, kayu nangka, dan manggis. Dengan demikian, selain berkontribusi terhadap perekonomian, produksi batik juga berkontribusi terhadap upaya merawat dan melestarikan alam.

Sebagai bagian dari industri tekstil, kontribusi batik bagi perekonomian nasional memang cukup besar, bahkan di masa pandemi. Menurut catatan Kemenperin, kontribusi sektor batik terhadap devisa melalui capaian ekspor batik pada tahun 2020 mencapai 532,7 juta Dolar AS, dan selama periode triwulan I tahun 2021 mampu menembus 157,8 juta Dolar AS, seperti dilansir Antara (06/10/2021).

Ditemui di kantor KPP-RI, Ketua Panitia Pameran RUPA KARYA KPP-RI Casytha Arriwi Kathmandu, menyebut batik sebagai aset budaya sekaligus identitas bangsa. “Selain itu, industri batik merupakan salah satu sektor yang selama ini memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) dan termasuk sektor yang banyak membuka lapangan kerja, khususnya kaum perempuan. Lewat batik, UMKM bisa menjadi penyumbang devisa yang mendorong pemulihan ekonomi dan meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama perempuan di dalam ekonomi,” tutur Casytha A. Kathmandu yang juga anggota DPD RI dari Dapil Jawa Tengah ini.

Lomba Desain Batik Nasional RUPA KARYA diselenggarakan KPP-RI sejak 24 November 2021 lalu dan menerima 91 karya dari 91 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil karya desain ini kemudian diseleksi menjadi 20 nominasi karya terpilih (daftar terlampir) oleh Dewan Juri dari anggota KPP-RI yang terdiri dari Arzeti Bilbina Huzaimi, (anggota DPR RI Fraksi PKB), GKR Hemas (anggota DPD RI – Provinsi DIY), Krisdayanti, (anggota DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan), dan Ratu Ngadu Bonu Wulla, (anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem). Selanjutnya, pengurus KPP-RI memilih dari nominasi tersebut untuk menentukan 5 (lima) karya terpilih yang akan diumumkan pada Jumat, 18 Februari 2022 di acara Pameran RUPA KARYA ini dan 1 (satu) di antaranya akan direalisasikan menjadi batik KPP-RI.

Pameran ini didukung penuh oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI yang selama ini selalu memiliki program untuk memberdayakan UMKM termasuk sektor batik. Dalam pameran ini, tampil pula sejumlah komunitas perajin batik dan desainer yang memamerkan sejumlah koleksinya.

Sebagian besar komunitas perajin batik dan desainer yang berpartisipasi dalam pameran RUPA KARYA dikoordinasikan oleh Dekranasda (Jakpreneur) DKI Jakarta. Antara lain; KOMBAT (Komunitas Batik Tangerang), Batik Wolter, Afif Syakur (Pengurus Harian Yayasan Batik Indonesia), Batik Marunda, Batik Gobang, Elemwe, Rumah Batik Wijaya, Firdaus Batik, Batik Suqi, Zarming Batik, House of Hanum, Batik Ismoyo, Nany Batik, Batik Ghaweyan Dewe dan Oscar Lawalata. Pameran terbuka untuk umum, namun untuk menyaksikan pameran ini, seluruh pengunjung wajib mematuhi aturan protokol kesehatan dan membawa surat swab terbaru.

“Inti kegiatan ini adalah membangun sinergi dari hulu ke hilir untuk industri batik Nusantara. Semoga acara ini bisa menghidupkan terus semangat menjaga aset budaya dan identitas kita, sekaligus memperbaiki taraf hidup masyarakat, termasuk kaum perempuan melalui batik,” tutup Casytha A. Kathmandu

Share :

Baca Juga

Budaya

Tua Adat Gelar Ritual Tesi di Rumah Gendang Bondo

Budaya

Nyanyian Hati di Jembatan Cambir (1)

Budaya

Terkenang Colol, Kucumbui Aroma Tubuhnya (1)

Budaya

Cepi Watu, Ibarat Kasih yang Tak Sampai

Budaya

Tarian Vera, Tradisi Merawat Makna

Budaya

Desa Wisata Masih Stagnan, Forkoma Matim Tawarkan Solusi Strategis

Budaya

SMPN Satap Pocong Tampil Gemilang di Panggung Expo Pendidikan Matim

Budaya

Cerlang Budaya SMP Negeri 5 Borong