Home / Budaya

Minggu, 6 Februari 2022 - 17:06 WIB

Nyanyian Hati di Jembatan Cambir (1)

Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur menggelar upara kenegaraan di Dermaga Borong. Foto/ist

Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur menggelar upara kenegaraan di Dermaga Borong. Foto/ist

Entah apa yang menampar  alam bawa sadar. Ketika saya berada di pendar Jembatan Cambir, Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Saya tidak mampu menemukannya.

Sebab pahatan jingga di langit, ditingkah semilir syahdu mengiris  membuat angan liar terus  berkelana ke mana-mana. Tak ada simpul yang membuat saya harus  berhenti sejenak. Ia terus melompat mencakar liar akal kesadaran.

 Saya terus membiarkan dalam teduh yang bening.  Menghembus menusuk bilik hati. Melingkar dan mengaduk-aduk kesadaran dan keadaban. Lalu kembali pulang pada sudut-sudut batin. Pelan menggemahkan. Ada gelora yang lentik, menukilkan kerinduan. Ada rintihan yang berkecambah, dahaga mendamba  agar ‘patena’ yang ada itu dapat mendulang rupiah.

Rinduku memahat. Mengiang impian yang diracik bersama. Meski hanya potongan cerita terlepas. Tutur yang berujung dalam diam. Semuanya memutar layar ingatan. Terbetik harap, terungkap cita, “seandainya tempat ini secepatanya dipoles dalam olah rasa yang hangat dan dalam, akan bermakna bagi sesama!”.

Setengah menengadah di teduhnya  langit. Balutan awan putih tipis-tipis di ujung pandangan mata. Seolah-olah membakar hasrat yang masih angan-angan itu. Sedang gerombolan pipit terbang datar, meliuk. Bulir-bulir padi menguning menyapa hangatnya rasa. Riak-riak air mengalir tak putus. “Ah..  Cambir… padamu tersimpan mutiara berbalut rupiah yang masih  terselubung”

Jembatan yang menghabiskan dana miliaran rupiah itu tidak hanya menjadi lintasan yang aman. Tetapi serentak menabur harap dan tawaran yang memuaskan. Saat letih menderah dan senja mulai merangkak malam. Kita bisa berhening sambil menatap beningnya aliran air. Di sana tergurat kekuatan, melumat dalam sukma nan dalam.

Berada di tempat ini, saya jadi ingat sosok-sosok  penggagasnya. Drs. Yoseph Tote, M.Si-Agas Andreas, SH.MHum, Ir. Kasmir Gon, MT dan Ir. Yos Marto. Sosok- sosok inilah yang cakap menerawang harapan  warganya. Dalam peran masing-masing mereka  mengelobarasi lebih luas nan menukik. Agar lintasan yang menghubungkan Cambir, Sola, Podol, Gurung, Pau hingga Melar dan Me’rah jadi pendek, dekat. Lintasan ini pula jadi alternatif bagi warga  asal  wilayah itu yang hendak bepergian ke Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Atau ke Lehong pusat pelayanan administrasi.

Borong, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat, sejauh ini, sudah menunjukkan geliatnya. Dinamikanya bertindih tepat dengan fasilitas yang tersedia di Pasar Borong. Tempat perjumpaan penjual dan pembeli di lokasi tersebut sudah teratak apik. Dengan itu pertukaran kepentingan dan aliran kebutuhan antarwarga berjalan normal. Meski disiplin warga pengguna  pasar perlu ditingkatkan. Akuistik pengatakakan masih perlu dibenahi lebih apik lagi.

Sedangkan Lehong sebagai sentral pelayanan administrasi perkantoran tak diragukan lagi. Semuanya sudah berjalan baik. Kecuali beberapa unit pelayanan yang masih bergantung pada signal satelit dan penerangan PLN. Gangguan signal satelit yang hilang muncul dan penerangan listrik PLN yang timbul tenggelam-nyala padam mengakibatkan pelayanan di Lehong  terganggu.  Dengan itu butuh pembenahan serius dan secepatnya. Agar semua bentuk pelayanan lancar, tepat, dan efektif. Yang diharapkan, semoga program Indonesia terang yang dicanangkan Presiden Joko Widodo benar-benar terwujud.  Dengannya pelayanan yang membutuhkan aliran listrik bisa berjalan semestinya.

Selain jadi pusat pelayanan administrasi, Lehong dan sekitarnya berpotensi jadi tempat pertumbuhan pemukiman baru. Sebab lahan seputar kompleks perkantoran itu masih sangat luas. Mayoritasnya masih ‘tidur lelap’. Yang dibutuhkan adalah pembenahan serius terhadap  rencana tata ruang kota sesuai karakter budaya dan ekologis-selaras alam. Hanya dengan itu, kelak, bangunan rumah penduduk tidak mampet. Tidak berpotensi jadi daerah kumuh.

Jembatan Cambir  menjadi salah satu lintasan alternatif  bagi warga yang hendak berurusan dengan dua tempat pusat pelayanan masyarakat  tersebut. Usia jembatan itu baru seumur jagung.

Seperti jembatan pada umumnya, bangunannya kokoh. Yang membedakan dengan jembatan-jembatan lain di Manggarai Timur adalah “bantal” jalannya yang  panjang  dari dua sisi jalan masuk  badan jembatan itu. Aliran airnya deras sehingga cocok untuk arung jeram. Pemandangan sekitarnya nian menarik. Di situlah keunikannya. 

Semula. Adanya  rencana pembangunan jembatan itu ditengarai soal. Banyak nada-nada sinis berbalut heran. Ada kesan pemborosan. Menghambur-hamburkan uang negera. Banyak warga menilai  belum saatnya jembatan itu dibangun. Apalagi sudah ada beberapa unit jembatan yang sudah bangun pada titik-titik aliran sungai itu. Tercatat mulai dari bibir Pantai Borong-Cepi Watu hingga Kembur sudah enam unit.  Belum lagi ke wilayah hilirnya. Jumlahnya tambah banyak lagi.

Argumentasi menolak rencana pembangunan jembatan tersebut sangat rasional. Sebab fakta menunjukkan masih banyak lintasan jalan di wilayah setempat yang belum ditingkatkan dengan aspal. Masih banyak pemukiman penduduk  terisolasi. Jalan rusak sudah jadi langganan. Belum lagi di beberapa titik penyeberangan, rencana jembatan masih sebatas nanti dibangun. Atas dasar itulah beberapa warga menggugat kebijakan pembangunan Jembatan Cambir.

“Mengapa harus bangun jembatan itu lagi?” Bukankah ada lintasan lain yang  menghubungkan wilayah Borong dan Lehong yang bisa ditapaki?” Itulah litani argumentasi yang disodorkan beberapa pemerhati sosial  guna ‘mematahkan’ rencana  pembangunan jembatan itu.

Namun kini, ketika semuanya sudah bangun. Ketika kita berada di atas bantal jembatan itu. Termaktub kesan. Betapa hebatnya, Drs. Yoseph Tote, M.Si, Agas Andreas, Kasmir Gon dan Yoseph Marto. Empat manusia “gila” inilah  yang telah mendesain semuanya. Sehingga, kini arus transportasi masyarakat melintasi jembatan itu jadi  lancar.

Betapa indah dan mengagumkan. Betapa legah hembusan energinya. Ketika menghela napas di atas jembatan itu. Semuanya indah. Alam bawa sadar kita akan mengetuk-ngetuk akhlak dan keadaban kita. Benarlah Bupati Ande Agas bilang. “Setiap kebijakan pasti ada onak yang mengusik. Tetapi ketika lihat hasilnya baru sadar,” ujarnya  datar.

Lebih jauh dari itu. Ternyata sang penggagas, Drs. Yoseph Tote-Agas Andreas, SH.MHum memiliki target jangka panjang bagi  masa depan Manggarai Timur. Sebab aliran sungai pada jembatan tersebut sangat deras. Bakal dikelola jadi aset daerah yang mendatangkan uang. Karena itu tahap demi tahap dipersiapkan dengan memperhitungkan kemampuan keuangan daerah dan obsesi masa depannya.

Dalam kesadaran itulah,  Bupati Ande Agas yang empunya tanggung jawab berjuang habis-habisan. Sebab  Cambir dengan segala tohokkan dan mimpi manis masa depannya,  menyimpan mutiara menjulang rupiah. Kapan tawaran rupiah itu bakal diraih? Waktu yang akan menentukan segalanya.  (Kanis Lina Bana/dR.id/bersambung)

Share :

Baca Juga

Budaya

Terkenang Colol, Kucumbui Aroma Tubuhnya (1)

Budaya

Desa Wisata Masih Stagnan, Forkoma Matim Tawarkan Solusi Strategis

Budaya

Nyanyian Hati di Jembatan Cambir (2)

Budaya

Membangun Sinergi dan Menjaga Aset Budaya Bangsa

Budaya

SMPN 3 Puntu Torok Golo Pamerkan ‘Sombu Kabo’ di Acara Expo Pendidikan Matim

Budaya

Tua Adat Gelar Ritual Tesi di Rumah Gendang Bondo

Budaya

Cerlang Budaya SMP Negeri 5 Borong

Budaya

Cepi Watu, Ibarat Kasih yang Tak Sampai