Home / Budaya

Sabtu, 12 Februari 2022 - 14:46 WIB

Nyanyian Hati di Jembatan Cambir (2)

Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur menggelar upara kenegaraan di Dermaga Borong. Foto/ist

Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur menggelar upara kenegaraan di Dermaga Borong. Foto/ist

BORONG, DENORE.ID–Seperti apa ekspetasi merangsang gairah wisatawan mendaratkan langkah di tempat wisata di Borong, Ibu kota Kabupaten Manggarai Timur? Inilah tabir yang perlu disingkap renungkan. Karena itu, Kepala Dinas Pekerjuaan Umum dan Perumahan Rakyat, Ir. Yos Marto, menjelaskan aliran sungai Wae Bobo dari Jembatan Cambir hingga bibir Pantai Borong-Cepi Watu ada dalam satu klaster perencanaan terpadu dan berkesinambungan. Rancangan terpadu bermaksud memaksimalkan pemberdayaan wisata Borong-Cepi Watu. Karakter masing-masing potensi perlu diramu dalam satu-kesatuan utuh dan menguntungkan. Semangatnya selalu selaras alam dan budaya lokal Manggarai Timur.

“Liukan dan aliran sungai Wae Bobo yang membentang dari jembatan Cambir hingga muara bibir Pantai Borong-Cepi Watu, pusat destinasi wisata kuliner menjanjikan asa mendalam. Tinggal bagaimana kita meng-update-nya agar bernilai rupiah. Pada ruas mana potensi diletakkan,” katanya.

Yos Marto merincikan. Langkah pertama yang dikerjakan pemerintah daerah adalah membereskan bibir Pantai Borong, Cepi Watu. Tanggul-tanggul pada bibir pantai di muara Sungai Wae Bobo dibangun agar tidak terkikis banjir dan abrasi. Pada bentangan tanggul-tanggul sepanjang bibir pantai menjadi pusat kuliner.

Langkah kedua, normalisasi sungai Wae Bobo dengan turap pengaman pada dinding-dinding bentangan aliran sungai.Tujuanya mengurangi luapan air ke tempat pemukiman warga dan melokalisir aliran sungai. Bila aliran sungai sudah normal, maka langkah berikutnya adalah memberdayakan aliran sungai itu dengan olahraga uji nyali arung jeram. Pesertanya bisa macam-macam. Atau komunitas- komunitas yang memiliki minat pada alam dan sungai.

“Kalau normalisasi sungai sudah ok. Aliran air sudah terlokalisir, maka kita rangsang publik dengan olahraga arung jeram. Olahraga ini menantang dan uji nyali memang. Tetapi kita buat sebagai daya tariknya. Kita ciptakan momentnya. Hanya saja perlu dukungan fasilitas di bibir pantai. Seperti aneka masakan dan minuman. Sugguhan pementasan budaya pun sudah siap. Dengan cara itu tidak bakalan jenuh. Bahkan memicu animo masyarakat dan wisatawan asing semakin tinggi ,” katanya penuh optimis.

Menurutnya, desain-desain yang telah ada dapat dipastikan bahwa Sungai Wae Bobho, Pantai Borong -Cepi Watu, hutan magrove dan kuliner di Pantai Borong menjadi satu-kesatuan yang telah disiapkan dengan matang. Tinggal bagaimana pembenahannya agar potensi yang ada tersebut mendatangkan keuangan bagi daerah.

Menurut Yos Marto, apa yang sudah mulai di beberapa titik wisata itu semata-mata demi mem-booming-kan lokasi pariwisata muara Wae Bobo, Pantai Borong-Cepi Watu. Karena itu, selama ini, beberapa event penting selalu berpusat di tempat itu. Harapannya dengan semakin gebyarnya pantai itu optimalisasi pemberdayaannya berjalan serentak dan berkesinambungan.

“Memang ini butuh waktu. Butuh kontribusi dan tanggung jawab moral bersama. Saya sangat yakin potensi yang kita miliki ini sangat kaya dan mahal. Saya sudah pulang dari beberapa daerah pariwisata, potensinya tidak jauh berbeda dengan yang kita miliki. Bahkan potensi kita sangat unggul. Jauh lebih unggul dan menjanjikan. Yang menjadi lebih di daerah lain karena sudah memberdayakanya. Kita belum terlambat. Kita optimis semua akan beres pada waktunya. Kita berharap keberpihakan dari kita semua,” pintanya.

Bupati Ande Agas belum lama ini memperkenalkan potensi itu kepada Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat. Meski jejak kakinya tidak mendarat di jembatan Cambir, tetapi Bupati Ande Agas telah melitani semua kekayaan yang ada. Hajatan besar seperti Hari Pangan Nasional (HPN) sengaja dipusatkan di rebis Sungai Wae Bobo. Tentu Bupati Ande Agas punya pertimbangan. Punya obsesi masa depan, bahwa cepat atau lambat kekayaan yang membentang dari Jembatan Cambir hingga muara Wae Bobho akan berbicara banyak.

Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat dalam semangat yang meluap-luap menegaskan, pariwisata merupakan industri tanpa asap dengan incam yang sangat menjanjikan. Karena itu pemerintah kabupaten, pelaku usaha dan pemerhati budaya harus bergerak beriringan dalam mendongrak potensi pariwisata di setiap daerah.

“Pantai di muara Wae Bobo sangat potensial. Kita harapkan pemerintah daerah berpikir cerdas dan bekerja cepat dan tepat sehingga potensi yang ada berdampak,” katanya.

Pantai Borong-Cepi Watu di muara Wae Bobo adalah potensi wisata yang dimiliki daerah ini. Potensi tersebut sangat unggul, eksotik. Memiliki wajah cerah dan nilai jual yang tinggi. Yang perlu dibenahi adalah sarana dan prasarananya. Jika semua perlengkapan sudah tersedia dengan baik niscaya tempat itu jadi rebutan, digandrungi dan dikunjungi banyak wisatawan.

“Pemerintah daerah tidak main-main dengan urusan pariwisata. Pemerintah bertekat di setiap titik destinasi wisata harus punya merk dan kekhasan sehingga memicu animo wisatawan. Saya harap di Manggarai Timur mulai pikirkan wisata Pantai Borong-Cepi Watu. Lakukan yang terbaik sehingga memiliki nilai jual,” pinta Gubernur Laiskodat, sekali lagi. (Kanis Lina Bana/habis)

Share :

Baca Juga

Budaya

Cerlang Budaya SMP Negeri 5 Borong

Budaya

Terkenang Colol, Kucumbui Aroma Tubuhnya (1)

Budaya

SMPN Satap Pocong Tampil Gemilang di Panggung Expo Pendidikan Matim

Budaya

Nyanyian Hati di Jembatan Cambir (1)

Budaya

Tarian Vera, Tradisi Merawat Makna

Budaya

Desa Wisata Masih Stagnan, Forkoma Matim Tawarkan Solusi Strategis

Budaya

SMPN 3 Puntu Torok Golo Pamerkan ‘Sombu Kabo’ di Acara Expo Pendidikan Matim

Budaya

Cinta Satu Malam di Tanah Colol (2)