Oh..Dokter!

Oleh Kanis Lina Bana*

Tulisan ini lahir ketika mendengar kisah perih keluarga salah seorang pasien di Puskesmas Waelengga, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur dua hari lalu. Meski satu pengalaman, bukan berarti tidak penting. Sebagai bahan refleksi, pentinglah. Tanpa berlagak menafikan spirit pelayanan petugas-petugas kesehatan di puskesmas tersebut. Tidak. Sekali lagi tidak.

Yang ingin diangkat ke ruang refleksi tulisan ini adalah dokternya. Pelayanan dokter yang saat ini bertugas di Waelengga. Karena itu refleksi kecil ini membatasi pada pelayanan dokternya. Bukan keseluruhan tenaga kesehatan di Puskesmas Waelengga.

Mendahului refleksi ini, saya awali  dengan satu ungkapan kecil. Ungkapan ini mengalir begitu saja, tanpa selimut deprekatif. “ Bahwa  tidak semua orang jadi dokter. Tetapi semua orang pasti butuh dokter. Terutama ketika raga tak berdaya akibat  serangan penyakit. Karena itu pertolongan dokter mutlak  dibutuhkan. Sentuhan tangan dokter bisa menyembuhkan. Bisa menambah usia lebih panjang lagi. Selain jika sang pemilik hidup menghendakinya.

 Itu sebab pelayanan seorang dokter sangat dibutuhkan. Sangat didambakan seraya berharap banyak. Tetapi tidak semua dokter bisa lebih longgar memahami pergulatan penyakit pasien sehingga  agresif menolongnya. Tidak semua dokter bereaksi cepat. Padahal kehadiran dokter penting dan mendesak. Harus dan cepat.

Sesungguhnya, tanpa mengabaikan proses dan obat-obatan, kehadiran dokter di samping pasien seraya berdialog saja bisa menolong. Sebab secara psikis kondisi pasien sangat terguncang akibat penyakitnya.  Penanganan dokter mutlak. Atau ada dokter melihat kondisinya sudah cukup selain tahapan penangannya. Itulah sebabnya mengapa kehadiran dokter sangat dibutuhkan.

Memang kehadiran dokter di Waelengga  berlangsung beberapa tahun belakangan. Sebelumnya, untuk Puskesmas Waelengga, jasa Mantri Yan No, Mama Yan No, dan Mantri Nabas selalu terkenang. Mereka petugas kesehatan perdana di Waelengga. Melayani orang-orang Waelengga dan sekitarnya.

Pelayanan mereka total. Tanpa batas. Kapan saja selalu ada waktu jika dibutuhkan. Mereka mengabdi penuh ibah hingga maut menjemput. Napas, doa dan spirit pelayanan menyatu dalam jarum suntiknya. Mereka  pahlawan pelayanan kesehatan bagi orang-orang Waelengga.

Berbeda dengan  dokter selalu ada kisahnya. Beberapa tahun lalu ada cerita getir. Dikisahkan, ada seorang pasien dalam kondisi sekarat. Sangat butuh pertolongan dokter. Namun  mengingat kondisi pasien,  keluarga minta bantuan kendaraan operasional di Puskesmas Waelengga. Kendaraan tersebut ada di puskesmas itu dan dikuasai dokternya. Sayangnya  permohonan bantuan itu ditolak. Akibatnya keluarga angkut pasien sekarat tersebut menggunakan jasa gerobak.

Pemandangan itu mendorong naluri wartawan Kompas yang kebetulan sedang berlibur. Sang wartawan melansir kejadian itu. Akibat pemberitaan itu sang dokter harus angkat kaki dari Waelengga. Disingkirkan karena tidak layak berada di Waelengga. Melayani pasien di puskesmas itu. Menyesalkah orang Waelengga? No…

Berbeda dengan dokter lain. Namanya dr Boby. Dokter muda itu luar biasa. Speed pelayanan tak ada tandingan. Kapan saja selalu siap untuk pasien. Bahkan jika  pasien tidak bisa mendatangi puskesmas, dr. Bobylah yang mendatangi rumah pasien. Itu sebabnya dr Baby selalu dikenang. Orang Waelengga merindukan pelayanan maksimal dari seorang dokter seperti itu. Bukan dokter malas dan sesuka hatinya. Apalagi marah-marah, seolah-olah pasien paksa dokter. Dokter, memang dibutuhkan. Karena kebutuhan itulah, dokter diharapkan bisa melayani  secara total untuk pasiennya.

Pengalaman terkini, seorang pasien mendatangi Puskesmas Waelengga karena sakit. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, petugas medis setempat menyampaikan jika dokter belum datang. Sebab penangan selanjutnya menjadi tanggung jawab dokter. Namun sang dokternya sedang di rumah.

Petugas kesehatan setempat sempat mendatangi rumah sang dokter. Hingga satu jam kemudian dokter tak kunjung datang. Sementara pasien terus menjerit karena sakitnya. Lantaran dokter tak kunjung datang jua, suami sang pasien itu mendatangi rumah dokter seraya memohon untuk tangani pasien.

Apesnya sang dokter bukan menyikapinya dengan santun. Malah marah-marah kepada keluarga pasien. Maka terjadilah perdebatan. Ujungnya pasien dan keluarga pasien tinggalkan Puskesmas Waelengga. Selain itu menolak tanda tangan keterangan tinggalkan puskesmas atas permintaan atau kemauan sendiri. Sebab untuk apa bertahan jika penanganan sangat lamban.

Pengalaman yang dilukiskan di atas, sekurang-kurangnya jadi masukan bagi dinas terkait. Agar dokter yang diterima bertugas di wlayah  Manggarai Timur umumnya perlu telisik jejak pelayanannya. Perlu magang selama beberapa bulan di RSUD untuk menakar kinerja dan komitmen pelayanan sebelum ditugaskan di puskesmas-puskesmas yang ada di Manggarai Timur.  Bukan menyerap begitu saja setiap lamaran dokter.

Kita butuh dokter karena keahliannya. Dan kepadanya diberi  jasa selayaknya. Karena itu butuh dokter  yang mau mengabdi,  bukan dokter sekadar cari makan.  (*) Penulis seorang jurnalis, asal Waelengga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!