Home / Kabar daerah

Selasa, 22 Maret 2022 - 12:19 WIB

 Perempuan Asal Elar Keberatan Batas Wilayah

Akasi Damai/Dua orang ibu ada di antara deretan aksi demo di halaman kantor DPRD Manggarai Timur, Selasa (22/3/2022)/Foto Nardin/Denore.id

Akasi Damai/Dua orang ibu ada di antara deretan aksi demo di halaman kantor DPRD Manggarai Timur, Selasa (22/3/2022)/Foto Nardin/Denore.id

BORONG.DENORE.ID– Sedikitnya  tujuh orang perempuan yang tergabung dalam ‘Aliansi Mosi Ngaran Menggugat’ menyatakan keberatan terkait penetapan tapal batas wilayah Desa Sangan Kalo dengan Desa  Mosi Ngaran. Alasannya penetapan baru batas wilayah dua desa bertetangga itu hanya melibatkan satu pihak. Keberatan itu disampaikan ketika menggelar aksi damai di halaman Kantor DPRD Manggarai Timur, Selasa (22/3/2022.

Marsiana Alfer Teme (25) menyatakan kehadiran perempuan menyuarakan kebenaran itu wujud kepedulian. Sebab banyak hal tertindas oleh kepentingan elit tertentu dengan mengesampingkan budaya ‘lonto leok’. Penetapan tapal batas baru di dua desa  tanpa melibatkan seluruh masyarakat Desa Mosi Ngaran mengabaikan budaya lonto leok itu. “Kami datang ke hadapan DPRD Manggarai Timur  untuk menyuarakan kebenaran. Kami  berharap aspirasi kami dari Desa Mosi Ngaran disikapi dengan baik,”  pintanya.

Karena itu, imbuhnya, kami kaum perempuan yang tergabung dalam ‘Aliansi Masyarakat Mosi Ngaran Menggugat’ menyatakan; Pertama, menolak tapal batas baru antar wilayah Sangan Kalo dan Mosi Ngaran  yang telah ditetapkan  Tim PPBDes. Kedua, tegakan Peraturan Daerah No 4 Tahun 2010

Ketiga, Pemekaran Desa Sangan Kalo berpotensi konflik jangka panjang antar kelompok masyarakat. Karena itu perlu ditinjau kembali batas wilayah. Keempat, apabila Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mengabaikan tuntutan ini, maka masyarakat Desa Mosi Ngaran Dan Warga Rzong pada umumnya maka masyarakat akan mengambil sikap tegas.

Amankan Aksi/Sejumlah aparat keamanan dari kepolisisan sedang amankan anggota akasi demo damai di halaman kantor DPR Manggarai Timur. Foto/Nardin/Denore.id

Koordinator aksi, Firminus Lilik, menegaskan kehadiran perempuan dalam aksi yang dipimpinnya itu bukan tanpa alasan. Tetapi katanya, di tengah demokrasi yang kian dibungkam ini, perempuan bebas berekspresi, memungkinkan wanita turut mengambil langkah penting dalam pembangunan di Desa Mosi Ngaran. “Bersama tujuh perempuan ini kami kuat, menolak penetapan tapal batas baru antar wilayah Sangan Kalo dan Mosi Ngaran yang di lakukan oleh tim PPBDes,” tegasnya

Hadirnya kaum perempuan ketika  aksi penolakan itu berlangsung  diapresiasi Kapolsek Borong, AKP Yohny F. Makandolu, SH. Menurutnya kehadiran perempuan dalam aksi damai itu memberikan isyarat yang humanis. “Kaum perempuan yang datang ini juga punya andil, untuk terlibat dalam pembangunan. Mereka yang datang adalah jiwa yang merdeka, tidak boleh pantang menyerah selama memperjuangkan hal yang benar” ungkap Yohny. (Nardin/Denore.id)

Share :

Baca Juga

Kabar daerah

Event Olahraga Kelurahan Rana Loba Memupuk Rasa Toleransi Antar Warga

Kabar daerah

Open Turnamen Kompol Yulianik Cup I, Delapan Tim Putra-Putri Masuk Babak Semifinal

Kabar daerah

Terkam Putra Jinakan Black Wings

Kabar daerah

Harga BBM Subsidi dan Non Subsidi di SPBU Borong Resmi Naik 

Kabar daerah

Polres Matim Donasi Bansos bagi Pasien Disabilitas 

Kabar daerah

PPO Matim Gelar Bimtek ARKAS Bagi SD di Kabupaten

Kabar daerah

Turnamen Kompol Yulianik Cup I, Ajang Persemaian Bakat

Kabar daerah

Open Turnamen Kompol Yulianik Cup I, Kualitas dan Jam Terbang