Home / Pendidikan dan Sastra

Senin, 25 April 2022 - 06:54 WIB

Rawat Ingatan Dengan Tulisan 

Ino Sengkang/Ketua FTBM Manggarai Timur/Foto/Ist

Ino Sengkang/Ketua FTBM Manggarai Timur/Foto/Ist

Oleh Ino Sengkang*

Setiap judul punya alasan subyektif dari penulis. Saya sendiri punya kebiasaan lupa tentang sesuatu, acara, kegiatan, rencana yang berada di luar jadwal kalender kerja. Praktis agar tidak lupa, saya menulis di group WA yang tidak produktif atau di kalender gawai. Itu pun masih saja lupa. Sering kali. Karena saya jarang menggengam gawai (hp) saat sedang kerja atau membaca buku. Oleh sebab itu, satu satunya cara saya merawat ingatan adalah dengan menulisnya di buku catatan harian atau di papan kerja  (white board) yang berada di ruang kerja saya.

Barangkali, untuk melanjutkan tulisan di bawah ini, saya perlu menginformasikan bahwa tulisan ini besifat subyektif. Sebagian besar tips tips strategis untuk merawat ingatan dengan membangun kebiasaan literasi dasar (membaca dan menulis)  adalah pengalaman pribadi penulis. Mungkin Anda merasa tidak layak untuk baca sampai tuntas. Jika masih merasa kurang, silahkan tambahkan sendiri sumber sumber lainnya. Saya menghargai kreativitas Anda. Tetapi saya jamin, setelah Anda membaca  tulisan ini sampai kata terkahir  dan mempraktikan dengan sungguh sungguh. Yakin, tidak akan ada yang mustahil. Seperti percikan api yang mampu membakar dan menghanguskan  seribu mil padang sabana. Demikianlah  jika kebiasaan membaca dan menulis anda laksanakan sejak saat ini. Jangan tunda. Sekarang. Anda akan menemukan keajaiban.

Meskipun demikian,  saya punya kebiasaan membaca karya karya besar para penulis hebat. Mereka  adalah penulis hebat yang telah melahirkan karya karya akbar dalam bentuk buku. Ijinkan saya menyembut nama Khalil Gibran, Paulo Chelo, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Pramoedya Ananta Toer, Arif Budiman  Gerson Poyk, Daniel Daki Dae, Umbu Para Langgi dan tentunya ruang ini tidak cukup untuk menyebut nama mereka satu per satu. Selain itu,saya  banyak membaca karya sastrawan yang masih  dengan ujung pena di tangannya sambil mengembara di atas lembaran dunia yang fana ini. Maka dari itu, yang ingin saya katakan di sini adalah pentingnya membaca karya karya orang lain. Jadikan mereka sebagai inspirator. Sebab mereka sedang dan sudah merawat ingatan dengan tulisan. Abadi karyanya. 

Keluhan terbesar, pengalaman pribadi penulis, ketika menjadi narasumber  membawakan materi literasi kepada pelajar (SMP, SMA/K dan  beberapa perguruan tinggi di NTT) dan khususnya pada kegiatan Pembinaan Literasi Generasi Muda tahun 2022: Peningkatan Kompetensi Literasi Bagi Generasi wilayah 3T pada Senin-Kamis, 4-7 April 2022 di Hotel Kasih Sayang Borong-Kabupaten Manggarai Timur oleh Kantor Bahasa Provinsi NTT, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Masalah yang ditemukan dari 32 Peserta yang ikut kegiatan adalah sebagian peserta mengakui mengalami kondisi aliterat dan aliterasi dan siswa siswi tidak biasa menulis atau menghasilkan karya. 

Apa arti kedua kata itu? Aliterat adalah kondisi di mana seseorang  tidak mau membaca. Pada kondisi ini seseorang tidak dalam keadan buta huruf/ atau tidak tahu baca tetapi memang tidak mau membaca. Sedangkan aliterasi adalah kondisi seseorang  kekurangan sikap membaca. Generasi kekuarangi sikap membaca (buku). Selain itu, sebagian besar siswa/i tidak terbiasa menulis setiap hari dan belum menghasilkan karya

Untuk mengatasi masalah tersebut, yang mungkin juga dialami oleh pembaca budiman. Tentunya untuk bisa menulis kita wajib memiliki kebiasaan membaca yang tinggi. Oleh sebab itu ijinkan saya memberikan tips dan langkah konkret agar seseorang mau membaca dan membangun sikap baca setiap hari.  Beberapa strategi praktis Pertama, melatih minat baca anak (Anda) sejak dini. Sediakan buku yang sesuai  kebutuhan anak anak. Kedua, pilih judul buku yang cocok. Pilih judul buku yang cocok dengan minat Anda. Jurusan Anda. Cita-cita Anda.  Ada jenis buku fiksi (cerpen, novel dan komik) buku petualangan, fantasi, mistei, cerita klasik, humor.

Sedangkan untuk buku non fiksi, Anda bisa membaca buku cerita kehidupan sehari-hari, kisah sejarah, buku ilmiah, buku ilmu pengetahuan, buku/majalah olahraga, seni, biografi dan motivasi. Bacalah!. 

Ketiga, miliki koleksi buku/ perpustakaan pribadi  di rumah. Bisa juga menggunakan rak buku seuai keingingan anda. Keempat,membagi waktu luang untuk membaca. Usahakan setiap hari punya waktu khusus untuk membaca. Dengan membaca kosa kata Anda bertambah banyak. Selanjutnya, posisi yang nyaman dan aman untuk membaca buku. atur jarak dengan buku 20-30cm. Kelima,   menentukan tujuan membaca buku, mengetahui gambaran umum isi buku agar membantu kosentrasi saat membaca buku. Kemudian mencatat hal hal penting dalam buku dan jadilah pembaca yang aktif.  Ketujuh,  baca, baca, baca dan bacalah. Dengan demikian, apabila kebiasaan membaca ini dibangun secara terus menerus, maka anda otomatis bisa menulis.

Saya menduga Anda sepakat. Bahwa satu-satunya cara untuk merawat ingatan adalah dengan  menulis. Tulis. Ada adagium kuno bunyinya begini Verba Volant, Scripta Manent, kata- kata itu terbang hilang, sementara yang tertulis akan tetap tinggal. Abadi.

Saya bagikan cara strategis untuk bisa menulis kreatif. Bersyukur bila membabtis diri sendiri menjadi penulis pemula. Namun, tips yang  saya bagikan ini sangat subyektif. Saya tidak sedang memaksa Anda untuk mengikuti kaidah ini. Anda bisa mengikuti kaidah kaidah yang umum. Tetapi, sekali lagi, apa yang saya bagikan adalah apa yang pernah saya lakukan dan berhasil. melahirkan produk tulisan, baik buku, terbitan dalam majalah, atau media daring.

Pertama, Ide, gagasan. Ide semacam titik api. Pemicu utama untuk bisa menulis. Pengalaman penulis, ide bisa datang dari mana saja, dari hal hal yang paling dekat, hal yang sederhana, yang ada di sekitar kita. Ide bisa datang saat berjalan, mendengarkan lagu, menonton,  saat duduk, saat  pesta, hujan, saat berkendaraan dan lain lain.  Ketika ada ide, saat itulah, saya langsung menulis, paling kurang menulis kata dan kalimat kunci. Selanjutnya,  ide juga bisa datang inspirasi aktivitas atau karya orang lain. 

Kedua, tulislah dari apa yang Anda lihat, dengar, apa yang  dipikirkan, apa yang Anda rasakan. Ketiga, gunakan bahasa personal, tetapi apabila Anda menulis tulisan ilmiah wajib menggunakan bahasa formal (PUBI). Ketiga, kapan Anda harus mulai menulis. Jawabanya adalah sekarang. Mulai dari diri sendiri, mulai dengan hal-hal yang mudah terlebih dahulu. 

Keempat,  latihan, latihan dan terus latihan. Ibaratnya kita baru pertama kali mengendari sepeda motor. Untuk bisa membawa sepeda motor kita butuh keseimbangan, latihan, jatuh, bangun dan terus berlatih hingga bisa mengendarai sepeda motor. Sama  halnya dengan menulis.  Menulis memang membutuhkan beberap teori, namun untuk bisa menulis, satu-satunya cara adalah dengan praktik menulis,

Kelima, koreksi tulisan Anda. Koreksilah tulisan Anda, dengan cara membaca tulisan Anda sebanyak 3 kali boleh lebih. Sesuaikan dengan kebutuhan. Perhatikan tanda baca, penempatan imbuhan, dan huruf kapital. Selanjutnya, mintalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengoreksi tulisan Anda. Jangan malu pada tulisan Anda sendiri. Sebab ada pepatah cina kuno “tulisan yang paling jelek lebih baik daripada ingatan yang paling kuat”. Benarlah kata Chairil Anwar dalam puisi Aku “äku ingin hidup seribu tahun lagi”. Ternyata hanya tulisan yang mampu  hidup1000 tahun. Abadi.

Akhirnya, pembaca yang budiman itu saja serangkaian tips sederhana yang bisa saya bagikan kepada Anda. Segala kekurangan adalah kekurangan penulis, dan kelebihan adalah milik kita bersama. Menulis membutuhkan teori. Ikuti  kaidah kaidah kepenulisan sesuai pedoman umum bahasa Indonesia. Namun untuk bisa menulis anda harus benar benar praktik menulis. Bagi pelajar, tulisan Anda bisa dipublikasikan lewat majalah dinding, atau melalui blog pribadi, atau media elektronik lainya. Yang paling penting Anda wajib memiliki dan menulis di buku harian. Hemat saya syarat yang paling utama untuk membangun sikap membaca dan menulis  adalah kemauan. Kemauan dari dalam diri sendiri adalah kunci utama anda untuk bisa membaca dan menulis. Tanpa kemauan anda tidak akan bisa menulis. Tidak akan ada tulisan. Mari rawat ingatan kita dengan tulisan. Sebab tulisan tidak akan pernah hilang di telan zaman.

Di akhir tulisan ini saya mengutip ungkapan Pramoedya Ananta Tour “orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,”. Salam literasi. Ayo membaca, ayo menulis.  Selamat hari buku 2022. (*)

Penulis Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Manggarai Timur

Share :

Baca Juga

Bahasa dan Sastra

FATAMORGANA

Pendidikan dan Sastra

Bambu Penghubung Bumi dengan Langit (3)

Pendidikan dan Sastra

Expo Pendidikan: Strategi Meningkatkan Prestasi Siswa di Manggarai Timur

Pendidikan dan Sastra

Membaca itu Sehat, Menulis itu Hebat! (1)

Pendidikan dan Sastra

TANAH TERJANJI

Bahasa dan Sastra

“Aspira” Sebagai Inspirasi

Pendidikan dan Sastra

SENJA TANPA NAMA

Pendidikan dan Sastra

Puisi, “Makhluk Liar Berbisa!”  (2)